Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 07 Agu 2019 14:53 WIB

Kuota Rumah Subsidi Mau Habis, Basuki Minta Tambahan ke Sri Mulyani

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Tim Infografis, Luthfy Syahban Ilustrasi/Foto: Tim Infografis, Luthfy Syahban
Jakarta - Pemerintah menepis bantuan atau subsidi untuk rumah pada tahun ini habis. Bantuan yang dimaksud adalah fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dan subsidi selisih bunga (SSB).

Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Eko D Heripoerwanto mengatakan, untuk FLPP telah terpakai sekitar 70%. Artinya masih ada sisa 30%.

"Kalau teman-teman sering menuliskan dari pengembang subsidi habis, tidak demikian. Kita lihat FLPP masih sekitar 70%, masih ada 30% yang bisa kita proses," katanya di Kementerian PUPR, Jakarta Selatan, Rabu (7/9/2019).


Begitu juga dengan SSB. Bahkan, realisasi SSB masih 0%. Tapi, dia mengatakan sudah banyak tagihan yang masuk dan siap dibayarkan.

"Sementara SSB sampai dengan realisasinya 0%. Padahal kita lihat (gambar) sisi kiri SSB harusnya ditagihkan 110 ribu unit, itu belum direalisasikan. Memang permintaan, penagihan sudah datang ke kami, kita catat sekitar 60 ribu kalau diproses dan disetujui semua maka SSB kinerjanya sekitar 60%," ujarnya.

Eko mengatakan, pemerintah telah menyiapkan antisipasi jika bantuan untuk rumah ini kurang.

"Untuk sementara Bapak Menteri PUPR sudah mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan untuk antisipasi bila ada kekurangan subsidi, harapan kita semua ada tambahan di ujung tahun," terangnya.

Sebelumnya, pengembang yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) berharap pemerintah menambah kuota FLPP. Sebab sisa kuota FLPP untuk bangun rumah subsidi sudah hampir habis.


Ketua Umum REI Soelaeman Soemawinata menjelaskan, tahun ini kuota anggaran FLPP hanya untuk membangun 168 ribu unit. Namun jika disetarakan dengan peningkatan harga, anggaran itu hanya mampu membangun 155 unit.

"Menurut sejarah studi empiris rumah subsidi itu rata-rata kenaikannya 30-40 ribu/tahun. Di 2018 itu ada 256 ribu unit, berarti harusnya tahun ini sekitar 286 ribu unit. Tahun ini kok ada penurunan jadi 168 ribu unit, atau kalau diasumsikan harga baru hanya 155 ribu unit," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Eman itu menjelaskan, pada Mei 2019 saja sisa kuota rumah subsidi hanya tinggal 50 ribu unit. Sementara, hingga Juli 2019 sisanya tingga 20 ribu unit lagi.

"Itu dalam sebulan juga sudah habis," tambahnya.

Simak Video "Kementerian PUPR Optimalkan Waduk untuk Antisipasi Kekeringan "
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com