Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 20 Des 2019 15:00 WIB

Motif Pengembang Bodong Lancarkan Aksinya

Anisa Indraini - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Belum lama ini, terungkap penipuan perumahan syariah fiktif atau pengembang bodong yang memakan korban 3.680 orang. Perumahan yang ditawarkan adalah Perumahan Amanah City di kawasan Maja, Lebak, Banten.

Melihat dari masalah itu, CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda menyebut kemungkinan pengembang tersebut awalnya tidak ingin menipu, tapi karena kesulitan pendanaan di tengah jalan.

"Saya rasa itu bukan murni penipuan, karena yang terjadi itu pengembang kesulitan cash flow. Modalnya nggak kuat tiba-tiba dia nggak bisa bangun, cari kemana-mana pun makin lama nggak dibangun jadi masuknya ranah penipuan," kata Ali saat dihubungi detikcom, Jumat (20/12/2019).


Ali menjelaskan, pengembang seperti itu biasanya lahan yang ditawarkan ke konsumen belum 100% miliknya. Dia bilang, pengembang tersebut biasanya berjualan sambil mencicil tanah dari pemilik lahan.

"Jadi dia tuh beli tanah ke pemilik lahan. Tapi dia nggak beli secara total, dia nyicil ke pemilik lahan. Dia DP tanahnya, kemudian dia bicaralah boleh nggak saya DP sekian terus saya langsung jualan? Kalau pemilik tanah bilang boleh ya dia sama-sama jualan," sebutnya.

Pengembang pun merasa kesulitan di tengah jalan karena uangnya habis untuk mencicil tanah ke pemilik lahan. Jika sudah begitu, akhirnya pengembang tidak bisa menuruti keinginan konsumen untuk membangun rumah.

"Dia (pengembang) nggak paham bisnis perumahan, dia menganggap gampang dengan uang konsumen dia bisa bangun, bisa ke bank, ternyata memang nggak segampang itu," terangnya.


Untuk itu, jika ingin membeli rumah pastikan kelegalitasan tanah. Jangan sampai tanah tersebut justru belum lunas atau masih dicicil oleh si pengembang.

"Tanyakan tanahnya sudah murni milik PT belum? Konsep-konsep seperti ini tanahnya bukan milik PT masih perseorangan. Itu bahaya. Ada risiko karena bisa saja kabur atau apa dan tidak bisa dipertanggung jawabkan," sebut Ali.

Simak Video "Pengembangbiakan Anggrek, Kalimantan"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com