Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 10 Mei 2020 18:30 WIB

Bisnis Properti 'Batuk-batuk' Kena Corona, Begini Biar Cepat Pulih

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Royal Sentul Park buatan Adhi Karya Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance
Jakarta -

Sektor properti yang melesu sejak tahun 2013-2014 telah mencapai puncaknya pada tahun 2018 dan tren kenaikan sudah mulai terlihat pada tahun 2019. Menurut Arief Rahardjo, Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield, pada tahun 2019 secara umum pasar properti telah membaik yang ditunjukan dengan penyerapan maupun tingkat hunian dari seluruh sektor properti (hunian, office, mal, hingga kawasan industri) mulai meningkat.

"Titik terendah pasar properti itu terjadi tahun 2018 karena masuk ke tahun 2019 sudah banyak tren yang menunjukan peningkatan. Sektor hunian misalnya, apartemen maupun rumah tapak (landed house) kinerjanya sudah lebih baik. Dari total 300 ribu unit apartemen yang dipasarkan di Jabodetabek ditambah suplai baru lebih dari 188 ribu unit hingga tiga tahun ke depan, penyerapan maupun okupansinya sudah lebih baik. Begitu juga sektor office, mal khususnya di pinggiran Jakarta, dan kawasan industri, semuanya sudah menunjukan peningkatan," ujarnya.

Bahkan untuk pasar hunian yang dipantau dari 40-an pengembangan kota baru (township) di Jabodetabek, Arief menyebut kinerjanya juga sangat baik khususnya untuk produk dengan range
harga Rp900 juta-Rp1,5 miliar. Secara rata-rata, penjualan yang terjadi untuk produk-produk di segmen ini penyerapannya mencapai di atas 90 persen.

"Kita bisa melihat beberapa relaksasi maupun regulasi yang diikeluarkan pemerintah telah berdampak positif untuk pasar. Kalangan konsumen investor yang selama ini wait and see sudah
mulai confident dan mulai melirik properti terlebih dengan banyaknya penawaran maupun promo menarik yang ditawarkan developer," imbuhnya.

Tren yang sangat baik ini juga terus berlanjut pada periode Januari hingga pertengahan Maret 2020. Umumnya, periode awal tahun merupakan masa penurunan untuk transaksi sektor properti tapi pada tahun 2020 ini trennya justru meningkat dibandingkan periode akhir tahun sebelumnya, hal itulah yang semakin membuat pasar semakin positif.

Hanya saja, pada bulan Maret itu juga kita mengalami pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk memutus penyebaran virus telah membuat banyak kantor marketing tutup dan banyak kegiatan yang harus dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan teknologi online dan banyak hal lainnya yang berubah untuk menyesuaikan dengan penerapan PSBB.

Kondisi yang kembali memukul sektor properti ini bukannya menghilangkan kesempatan maupun potensi dari produk properti. Menurut pengamat properti dan CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, tetap ada potensi khususnya dengan memanfaatkan marketing digital untuk memperkuat branding, positioning, hingga memunculkan keunggulan lainnya dari produk yang
digarap.

"Situasi PSBB dengan banyaknya pemasaran offline yang tutup justru harus dimanfaatkan karena sekarang semua orang makin akrab dengan perangkat telekomunikasi (gadget). Developer harus bisa menggoda pasar dengan produk yang menarik dan komitmen pengembangan yang pasti sehingga bisa menarik pasar. Saat ini siapa yang bisa memanfaatkan teknologi digital nantinya akan menjadi pihak yang paling cepat pulih bisnisnya saat pandemi ini bisa diatasi," katanya.

Kesiapan Pengembang

Salah satu yang mulai melirik perubahan pola aktivitas masyarakat adalah PT Adhi Commuter Properti (ACP). Direktur Pengelolaan Properti ACP Hanif Setyo Nugroho mengaku, pihaknya sangat memahami situasi pasar terkait wabah Covid-19.

ACP merupakan anak usaha BUMN PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang membangun sarana transportasi masal kereta ringan LRT Jabodetabek.

"Kami melihat wabah ini sebagai challenge yang terus kami pelajari untuk penerapan strategi marketingnya salah satunya melalui channel online atau digital marketing. Kami juga berkomitmen
untuk terus mengerjakan proyek-proyek LRT City yang pada tahun ini akan siap diserahterimakan seperti LRT City-Eastern Green, LRT City-Gateway Park, dan LRT City-Royal Sentul Park. Semuanya tetap berlanjut dengan protokol pekerjaan konstruksi standar penanganan Covid-19," jelasnya.

Beberapa content marketing terus dikembangkan terkait keunggulan produk properti LRT City yang terintegrasi dengan sarana LRT. Misalnya dengan penayangan video progres proyek hingga memilih unit dan approve secara online yang bisa dilakukan dari rumah.

Terbukti sejak mulai adanya wabah ini minat masyarakat untuk proyek-proyek LRT City masih cukup baik. Salah satunya adalah proyek LRT City-Royal Sentul Park yang akan melaksanakan proses serah terima unit pada bulan Oktober 2020 untuk tower pertamanya (1.600 unit).

Terpisah, Project Director Royal Sentul Park, Nanang Safrudin Salim mengungkap, progres yang tetap berjalan saat pandemi ini memberikan keyakinan tersendiri bagi masyarakat dan menghilangkan kekhawatiran untuk konsumen yang sudah membeli.

"Ada beberapa kelebihan khususnya dari progres maupun perkembangan kawasan di proyek LRT City-Royal Sentul Park. Selain proses pembangunan yang terus berjalan, di sini sudah beroperasi pusat kuliner Padi Emas dan tempat wisata Taman Kupu-kupu menyusul akhir tahun ini akan dibuka Mal The Boutique Walk (B-Walk), mal tiga lantai seluas 17.700 m2. Progres ini juga diikuti surrounding-nya yang juga berkembang karena kawasan ini memang akan dijadikan salah satu CBD di Bogor," katanya.



Simak Video "Investasi Properti Diprediksi Jadi Bisnis Terlaris 2020 "
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com