Mal Sepi Diserang Pandemi, Ini Tipsnya Agar Tetap Diminati

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 08 Jul 2020 14:30 WIB
Suasana pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung di Duta Mall, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (24/3/2020). Aktivitas di pusat perbelanjaan tersebut sepi setelah pemerintah setempat mengimbau kepada masyarakat agar mengurangi aktivitas di keramaian mengingat telah ditemukannya satu pasien positif virus COVID-19 di Kota Banjarmasin. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/aww.
Ilustrasi/Foto: ANTARA/BAYU PRATAMA S
Jakarta -

Pusat perbelanjaan atau mal menjadi salah satu sektor yang paling diuji sepanjang adanya pandemi COVID-19. Meski kini, mal-mal sudah diizinkan beroperasi kembali, akan tetapi, tingkat keterisian ritel dan kunjungan pengunjungnya diyakini bakal terus menurun sampai akhir tahun 2020 mendatang.

Lalu, apa yang bisa dilakukan pihak pengelola mal agar bisa bertahan di saat-saat kondisi tersebut?

Menurut Senior Associate Director Colliers International di Indonesia Ferry Salanto pihak pengelola mal maupun penyewa ritel harus rela mengurangi keuntungannya sepanjang pandemi ini, agar bisa terus bertahan. Misalnya, pengelola mal bisa memberi diskon tarif sewa bagi penyewa ritel atau mengizinkan penyewa mencicil tarif sewa selama pandemi.

"Intinya adalah bagaimana bisa mencapai satu kesepakatan antara pengelola dan penyewa ini supaya masing-masing tetap survive, walaupun memang mau tidak mau mengurangi margin keuntungan tapi itu lah pilihan terbaik yang bisa diambil supaya industri mal ini bisa terus berjalan," ujar Ferry dalam konferensi pers virtual, Rabu (8/7/2020).

Selain, menawarkan cara pembayaran yang meringankan penyewa, pengelola mal diminta menunda menaikkan biaya pemeliharaan gedung.

"Juga siap berdiskusi jika ada permintaan dari penyewa untuk model bagi hasil atau lainnya yang mungkin dapat melindungi atau setidaknya berbagi risiko dengan penyewa jika pandemi serupa terus terjadi," tambahnya.

Selain itu, pengelola mal dan penyewa ritel diimbau memperketat penerapan protokol kesehatan selama beroperasi.

"Dua-duanya bisa menerapkan protokol kesehatan secara ketat sehingga datang ke mal itu bukan lagi sesuatu yang penuh dengan risiko, mereka punya opsi untuk bisa keluar dari kebosanan dengan datang ke mal, tapi juga, risiko untuk melakukan itu juga bisa diminimalisir dengan cara penerapan protokol kesehatan yang ketat," imbuhnya.

Tak hanya itu, promosi di media sosial juga penting digencarkan terutama promosi terkait penerapan protokol kesehatan. Tujuannya untuk meyakinkan pengunjung yang ragu-ragu agar tidak takut lagi datang ke mal. Serta, melakukan renovasi layout terutama untuk mengakomodasi sirkulasi pengunjung dan disesuaikan dengan jumlah toko dan ruang terbuka.



Simak Video "Dampak Corona, Mal Terbesar di Kendari Sepi"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)