Mau Bikin Rumah Duit Belum Cukup? Coba Konsep Rumah Tumbuh

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Senin, 21 Sep 2020 12:54 WIB
The Twins/Fernando Gomulya/Delution
Foto: The Twins/Fernando Gomulya/Delution
Jakarta -

Dalam membangun sebuah rumah budget alias anggaran menjadi salah satu hal utama yang harus dipikirkan. Seringkali budget yang diperlukan pun sangat besar, bahkan melampaui dana yang tersedia.

Namun jangan khawatir, masih ada banyak opsi yang bisa dilakukan untuk membangun rumah meskipun budgetnya minim. Cara tersebut adalah dengan menggunakan konsep rumah tumbuh.

CEO perusahaan arsitek Delution Muhammad Egha mengatakan konsep rumah tumbuh adalah konsep perencanaan pembangunan rumah secara berkelanjutan. Pembangunan dilakukan dengan dana yang sudah ada dan dilanjutkan di kemudian hari.

"Yang jelas ini adalah perencanaan yang berkelanjutan, di mana saat mau membangun lagi itu tinggal lanjutin aja nggak mesti bongkar ini itu. Maka perencanaannya ini sangat penting. Bagaimana dia membangun, terus menata sisa materialnya juga biar nggak mengganggu pemilik," papar Egha saat berbincang bersama detikcom di kantornya, bilangan Bintaro, Tangerang Selatan.

"Lalu bagaimana saat mau lanjut tinggal kerjakan nggak perlu bongkar ini itu," sebutnya.

Egha mengatakan konsep ini juga sempat digunakan pada saat pihaknya menggarap rumah The Twins di kawasan Cipulir, Jakarta Selatan. Rumah itu mendapatkan atensi dunia internasional, dan memenangkan salah satu penghargaan pada ajang Artichizer Award.

Dia bercerita pada awalnya, pemilik rumah The Twins hanya punya budget pas-pasan Rp 150 juta untuk membangun rumah. Egha menyebutkan, uang sebesar itu tak cukup, maka dari itu pihaknya menawarkan konsep rumah bertumbuh.

Dia menjelaskan pembangunan dengan konsep rumah tumbuh dibagi dalam beberapa tahap, termasuk dalam pembangunan The Twins yang memiliki dua bangunan kembar berdampingan.

"Maka kami tawarkan lah konsep rumah tumbuh, awalnya tuh rencananya itu tahap 1 cuma bangun yang bangunan pertama yang pendek ini. Kemudian tahap dua bangunan kedua dibangun satu lantai terus didak, tahap ke terakhir baru yang lantai dua pada bangunan satunya," papar Egha.

Egha menyebutkan sebetulnya konsep ini sudah sering ditemui di tengah masyarakat. Hanya saja, banyak terjadi perencanaannya kurang baik, sehingga membuat konsep ini tidak efisien.

"Konsep ini sebetulnya sudah sering dipakai di masyarakat, cuma karena mereka nggak pakai arsitek, atau pakai arsitek tapi kurang baik, jadinya perencanaannya kacau. Saat berhasil satu tahap mau ke tahap berikutnya ngebongkar dulu ini itu baru bangun lagi," ungkap Egha.

"Jadi nggak efisien, banyak biaya terbuang juga jadinya," lanjutnya.



Simak Video "Melihat Rumah Mungil yang Raih Penghargaan Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)