Melindungi Barang di Rumah Saat Banjir, Perlu Pakai Asuransi?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 08 Nov 2020 20:45 WIB
Hujan deras yang mengguyur Jakarta saat siang tadi membuat sejumlah kawasan di Ibu Kota terendam banjir. Salah satunya kawasan Kemang Utara.
Foto: ANTARA/RENO ESNIR
Jakarta -

Setiap musim hujan, kawasan Jakarta dan sekitarnya menjadi langganan banjir. Tak jarang saking besarnya volume air banjir juga menjadi bencana.

Genangan air juga tak jarang merusak beberapa bagian di dalam rumah. Kasus kendaraan terendam pun tidak asing terdengar bila banjir melanda.

Melihat kondisi tersebut, haruskah masyarakat Jakarta memberi perlindungan asuransi pada asetnya?

Menurut Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho mendaftarkan perlindungan asuransi untuk rumah atau kendaraan demi menghadapi potensi kerugian akibat banjir adalah pilihan yang baik. Asuransi menurutnya bisa saja meminimalisir kerugian biaya apabila ada aset yang rusak karena banjir.

"Kalau nggak ada isu sama keuangannya, dan mampu pakai asuransi, bisa juga jadi proteksi buat barang kita dengan lebih baik. Asuransi bisa digunakan misalnya untuk motor, mobil, rumahnya juga bisa," ungkap Andy kepada detikcom, Minggu (8/11/2020).

Paling cocok menurutnya asuransi digunakan untuk melindungi kendaraan. Pasalnya, kendaraan paling rawan rusak apabila sudah terendam banjir.

"Mobil atau motor bisa nggak misalnya, bisa banget, itu akan bagus banget mengurangi kerugian uang yang dikeluarkan. Kendaraan ini kan rawan terendam ya kalau banjir, yang penting sesuai dengan klausul aja," ungkap Andy.

"Jadi biasanya klausulnya tuh kalau kendaraan saat banjir, kita nggak menghajar banjir tapi posisinya kendaraan kita nggak sengaja terendam," ujarnya.

Namun, khusus untuk asuransi perumahan bisa jadi pihak asuransi tidak mau memberikan perlindungan apabila setelah disurvei rumahnya berada di lokasi rawan banjir. Kalaupun mau memberikan perlindungan, pasti biaya bulanannya akan sangat mahal.

"Cuma kalau rumahnya mereka ini di daerah banjir, pas disurvei ada dua kemungkinan. Preminya mahal atau malah nggak mau di-cover sama sekali," kata Andy.

Apabila perusahaan asuransi mau meng-cover perlindungannya menurut Andy tidak ada salahnya membayar biaya lebih mahal untuk menekan kerugian di kemudian hari.

"Ini kan perlindungan, namanya juga bencana nggak ada yang tahu sebesar apa kerugiannya. Nah meskipun dengan premi lebih tinggi bisa menimbulkan rasa aman dan mengurangi kerugian kita," kata Andy.

"Biasanya nanti yang di-cover adalah barangnya yang rusak kalau asuransi rumah, nilai barangnya berapa," ujarnya.

(dna/dna)