Pembelian Rumah Anjlok, Terendah dalam 6 Bulan

Nadhifa Sarah Amalia - detikFinance
Jumat, 13 Nov 2020 18:25 WIB
Minat masyarakat untuk membeli properti masih tinggi di masa pandemi Corona. Walaupun pergeseran pembeli beralih ke segmen yang lebih rendah.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Minggu lalu, rekor suku bunga rendah pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tidak membantu untuk menyeret pembeli rumah keluar dari kemerosotan baru-baru ini. Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan permintaan dari pembeli.

Bahkan, aplikasi untuk membeli rumah sudah turun hingga 3% untuk minggu ini dan 16% lebih tinggi dari tahun lalu. Perbandingan tahunan yang dilakukan sudah semakin menyusut.

"Pasar pembelian terus merosot baru-baru ini, dengan penurunan indeks untuk keenam kalinya dalam tujuh minggu ke level terendah sejak Mei 2020," ujar Joel Kan, ekonom MBA.

"Pasokan rumah yang tidak memadai memberikan tekanan pada harga rumah dan mempengaruhi keterjangkauan, terutama untuk pembeli pertama kali dan pembeli berpenghasilan rendah." lanjutnya, dilansir dari CNBC, Jumat (13/11/2020).

Jumlah pinjaman sendiri telah mencapai ketinggian baru dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini disebabkan karena meroketnya harga rumah dan aktivitas yang relatif lebih kuat di ujung atas pasar.

Namun, permintaan mungkin sudah berada di bawah tekanan. Pasalnya, suku bunga KPR melonjak tinggi sejak Joe Biden terpilih menjadi menjadi Presiden AS.

"Ini meninggalkan tingkat di wilayah yang masih bagus menurut standar historis, tetapi sifat tajam dari langkah tersebut menimbulkan pertanyaan tentang ke mana kita pergi dari sini," kata Matthew Graham, kepala operasi di Mortgage News Daily.

"Untuk saat ini, para pedagang berhati-hati dalam hal pasar obligasi. Itu berarti pengikut suku bunga KPR rata-rata harus berhati-hati juga." Tutupnya.

(dna/dna)