Pasar Properti Kelas Atas-Bawah Lesu, Pengembang Bidik Rumah Kelas Menengah

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 15 Nov 2020 14:20 WIB
2750 Rumah Tidak Layak Huni Dibedah Jadi Homestay

Pekerja melakukan proses pembangunan Sarana Hunian Pariwisata (Sarhunta) Desa Pulisan, Kecamatan Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Kementrian PUPR melalui Ditjen Perumahan melaksanakan Program Sarhunta yang merupakan rangkaian kegiatan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah untuk 2.750 unit rumah tidak layak huni agar bisa menjadi homestay yang menarik untuk mendukung pariwisata. 

Total rumah yang akan menjadi target Program Sarhunta berada di KSPN Danau Toba sebanyak 1.000 unit, Borobudur 350 unit, Mandalika 500 unit, Labuan Bajo 600 unit, dan Likupang 300 unit dengan anggaran sebesar Rp429,23 miliar.

Homestay yang dibangun memiliki tipe 36 dengan mengusung konsep ecovillage dan mengedepankan kearifan lokal.

Pembangunan Sarhunta dibagi menjadi dua yakni pertama, peningkatan kualitas rumah tidak layak huni menjadi layak huni sebagai Sarhunta serta peningkatan kualitas rumah tidak layak huni disepanjang koridor menuju lokasi pariwisata.

Foto : Agung Pambudhy/Detikcom
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Efek pandemi virus Corona (COVID-19) saat ini masih membuat penjualan rumah lesu. Meskipun sudah ada sedikit perbaikan karena masyarakat mulai berminat lagi untuk membeli properti tersebut.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Real Estat Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida mengatakan penjualan rumah per Oktober 2020 tumbuh tipis 1,52%. Peningkatan penjualan terjadi pada rumah menengah seharga Rp 500 juta sampai Rp 1,5 miliar per unit.

"Sesuai dengan data BI (Bank Indonesia) penjualan kita itu kalau sampai Juli memang turun. Dari Agustus, September, Oktober, kita sudah ada peningkatan dikit 1,52%. Ini terjadi karena ada booming di penjualan harga Rp 1,5 miliar ke bawah," kata Paulus kepada detikcom, Minggu (15/11/2020).

Melihat peluang itu, semua developer memilih melansir proyek perumahan berupa klaster atau proyek baru yang sesuai harga tersebut. Saat ini mereka lebih mencari properti yang kecil, namun tetap tidak melupakan konsep arsitektur.

"Karena tren yang ada berada sekitar Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar yang terbanyak sekitar 40-an%, sehingga kita mengubah developer ini untuk site plan ke yang lebih kecil tapi lebih sehat. Jadi arsitekturnya kita sesuaikan supaya aliran udara dan layout lebih memenuhi keinginan dari masyarakat," ucapnya.

Di luar itu, penjualan segmen rumah sederhana disebut masih turun sekitar 30%. Pasar rumah menengah dinilai lebih tumbuh untuk saat ini.

"Untuk rumah sederhana juga turun, jadi sampai dengan Oktober ini kita turun sekitar 30%. Yang meningkat itu di atas harga sederhana (menengah) khususnya yang harga paling gede sampai Rp 500 juta. Jadi penguasaan market itu ada di Rp 1,5 miliar ke bawah," imbuhnya.

Kondisi pertumbuhan penjualan pada kelas menengah dinilai tak lepas dari dukungan pemerintah yang memberikan stimulus bagi kelompok masyarakat yang menjadi konsumen properti di segmen tersebut.

"Memang karena ini pandemi global, banyak tergantung dari regulasi. Jadi dukungan relaksasi, stimulus yang diberikan pemerintah. Kemudian juga dari upaya kita merubah tren yang ada," tuturnya.

(zlf/zlf)