Pemilik Properti saat Pandemi: Tak Dapat Uang Sewa, Tapi Dilarang Ngusir

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 18 Des 2020 13:11 WIB
Ilustrasi Proyek Properti
Foto: Ilustrasi Proyek Properti (Istimewa)
Jakarta -

Serba salah. Itu mungkin kini dirasakan oleh pengusaha properti sewaan di tengah pandemi Corona. Mereka tak bisa mendapatkan uang sewa, tapi juga tak bisa mengusir penyewa.

Maral Boyadjian adalah pebisnis real estat yang memiliki delapan rumah di California Selatan. Bisnis itu sudah ia jalani bersama sang suami selama 30 tahun terakhir.

"Beberapa orang menghabiskan uang mereka untuk beli rumah yang lebih besar atau mobil lebih bagus, tapi kami hidup sederhana. Berapa pun uang yang bisa kami kumpulkan, digunakan buat beli rumah satu keluarga untuk disewa lagi," kata Boyadjian dikutip dari CNN, Jumat (18/12/2020).

Biasanya biaya sewa yang didapat untuk menutupi semua pengeluarannya. Namun akibat dampak pandemi COVID-19, penyewa di tiga propertinya yang berlokasi di Lembah San Fernando, belum membayar sewa sejak Agustus lalu.

Boyadjian tidak bisa mengusir penyewa tersebut karena moratorium penggusuran negara yang diperpanjang hingga 31 Januari 2021 mendatang. Seperti diketahui, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit melarang penggusuran nasional untuk menghentikan penyebaran COVID-19.

Dari tiga penyewa, satu telah membayar 25% dan sisanya nanti. Boyadjian merasa senang memiliki penyewa seperti itu karena setidaknya upaya yang dilakukan mendapat sesuatu, dibanding penyewa yang tidak membayar sama sekali.

"Memiliki properti dan memungut uang sewa adalah cara saya mencari nafkah. Tidak ada bantuan pemerintah yang datang kepada saya. Pendapatan kami telah dipotong," ucap Boyadjian.

Beruntungnya sampai saat ini dia masih mampu memenuhi kewajiban finansialnya, seperti melakukan pembayaran pajak properti dan membayar asuransi. Kewajibannya tidak hanya harus membayar keperluan seperti air, tetapi juga untuk tukang kebun dan pemeliharaan kolam.

"Kami telah mampu membayar hipotek kami, tetapi kami benar-benar dalam bahaya karena tidak dapat memiliki dua properti," imbuhnya.

Menurut Analisis Data Sensus oleh Pusat Prioritas Anggaran dan Kebijakan, sekitar 9,2 juta penyewa yang kehilangan pendapatan selama pandemi tidak bisa membayar sewa. Berdasarkan Laporan dari Federal Reserve Bank of Philadelphia, rumah tangga penyewa yang kehilangan pekerjaan berutang sewa rata-rata US$ 5.400 pada bulan ini.

(zlf/zlf)