Geger Desain Garuda Istana Negara, Desainer Buka Suara

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 01 Apr 2021 20:00 WIB

Akan tetapi, desain itu dikritisi para arsitek yang tergabung dalam Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP). Menurut mereka, desain burung Garuda itu lebih cocok dijadikan monumen atau tugu saja dari pada menjadi desain Istana Negara.

"Kami merekomendasikan versi burung Garuda disesuaikan menjadi monumen atau tugu saja pada posisi strategis tertentu di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dan dilepaskan dari fungsi bangunan istana," kata kelima asosiasi tersebut dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikcom, Kamis (1/4/2021).

Mereka juga mengusulkan agar desain Istana Negara dibuat ramah lingkungan.

"Mengusulkan desain bangunan gedung istana agar disayembarakan dengan prinsip dan ketentuan desain yang sudah disepakati dalam hal perancangan kawasan maupun penataan tata ruangnya termasuk target menjadi model bangunan sehat beremisi nol," sambungnya.

Kelimanya berpendapat memulai pembangunan Ibu Kota Baru tidak perlu tergesa-gesa harus melalui bangunan gedung, tetapi dapat melalui TUGU NOL yang dapat ditandai dengan membangun kembali lanskap hutan hujan tropis. Seperti penanaman kembali pohon endemik Kalimantan yang nantinya menjadi simbol bahwa pembangunan IKN memang merepresentasikan ke berpihakan pada lingkungan seperti dalam narasi skema sayembara Nagara Rimba Nusa untuk 'membangun hutan terlebih dahulu baru membangun kotanya',"

"Kami berharap pernyataan dan rekomendasi ini dapat menjadi bahan pengayaan dan masukan bagi pemerintah dalam menyiapkan pemindahan dan pembangunan IKN ini. Salah dalam merencanakan maka rencana itu akan menghasilkan kegagalan," imbuhnya.

Halaman

(dna/dna)