Penampakan Bangunan 'Mati' di Lokasi Proyek Bukit Algoritma

Syahdan Alamsyah - detikFinance
Selasa, 13 Apr 2021 17:41 WIB
Sukabumi -

Kawasan Cikidang di Sukabumi dibidik menjadi lokasi megaproyek Bukit Algoritma alias 'Silicon Valley'-nya Indonesia. detikcom menjajal salah satu lokasi yang kabarnya akan terkena imbas proyek tersebut.

Lokasinya berada di lahan perkebunan sawit yang dikelola oleh PT Bintang Raya Lokalestari, perusahaan yang juga terlibat dalam penandatanganan rencana proyek tersebut.

Berbekal keterangan dari Staf Kasi Pemerintahan Kecamatan Cikidang, Purnawan. Diketahui kawasan perkebunan itu juga dikenal oleh masyarakat dengan nama "Shaolin" diduga penamaan itu berawal dari adanya lokasi bangunan yang dulunya akan dibangun sekolah bernama Shaolin School yang dikelola oleh pemilik lokasi. Namun rencana itu juga urung dilakukan.

Sepanjang perjalanan, kanan dan kiri jalan adalah bentangan pohon sawit. Selain itu terdapat bangunan vila tidak terurus yang sejak beberapa tahun silam dibiarkan, bangunan vila dengan konsep rumah kebun itu memang sengaja dibangun oleh pengelola lahan perkebunan.

"Perusahaan itu (bergerak) perkebunan, statusnya HGU yang punya (lahan) pak Budi Handoko lalu dikelola oleh putranya Dhanny Handoko. Kalau tidak salah sekitar tahun 2012 dikelola awalnya bergerak di teh dan karet, kalau sekarang berubah jadi sawit dan rumah kebun (vila)," kata Purnawan, Selasa (13/4/2021).

Penampakan vila dan bangunan terbengkalai di Lokasi proyek Bukit AlgoritmaFoto: Syahdan Alamsyah/detikcom: Penampakan vila dan bangunan terbengkalai di Lokasi proyek Bukit Algoritma

Vila yang awalnya memang berkonsep rumah kebun itu diduga sepi peminat, akhirnya dibiarkan lapuk dimakan usia. Meski begitu, jalan ke lokasi berupa cor beton masih terawat meski sebagian juga sudah rusak.

"Vila itu dulu informasi yang saya dapat memang untuk dijual, tapi entah kenapa sepi dan akhirnya ditinggalkan," terang Purnawan.

Purnawan menyebut 888 hektar kawasan yang akan dibangun proyek Bukit Algoritma berada di kawasan perkebunan. Ada beberapa perkebunan yang akan terimbas dan salah satunya yang dikelola oleh PT Bintang Raya Lokalestari.

Penampakan vila dan bangunan terbengkalai di Lokasi proyek Bukit Algoritma Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom: Penampakan vila dan bangunan terbengkalai di Lokasi proyek Bukit Algoritma

Meskipun ramai digembor-gemborkan soal mega proyek, pihak kecamatan sendiri mengaku belum mendapat tembusan kabar soal itu. "Kita malah tahu dari pemberitaan saja, ramai berita penandatanganan oleh Pak Dhanny Handoko dengan pak Jatmiko (Budiman Sudjatmiko)," tuturnya.

Di ujung perjalanan setelah melintasi perkebunan sawit dan villa, terdapat bangunan megah dibagian atas tertulis Club House. "Itu milik Pak Budi Handoko, kawasan itu memang dikelola oleh keluarganya," pungkas Purnawan.

Pemilik lahan buka suara

Dhanny Handoko, Direktur Utama PT Bintang Raya Lokalestari (BRL) penyedia lahan megaproyek Bukit Algoritma buka suara soal bangunan 'mati' tersebut. Dia menjelaskan perusahaannya masuk ke area Cikidang pada tahun 2009 sampai tahun 2012 proses perusahaan mulai berjalan. Ia mengatakan saat itu masuk bergerak dalam bidang perkebunan dan agrowisata. Terkait bangunan yang terkesan terbengkalai, ia punya alasan sendiri.

"Mereka itu adalah ikut berkebun, (rumah kebun) yang suka baru dandanin, rumah yang masih relief itu adalah bonus saya tidak pernah menjual rumah. (Misalkan) Ikut berkebun mitra, sebagai plasma mitra ambil kavling kebun dikasih bonus rumah. Bukan buat dia, buat yang akan memanfaatkan ruang usaha taninya, lahan pekarangan itu maksud saya sehingga simbiosisnya terjadi," kata Dhanny.

"Tapi yang namanya pemiliknya orang kota, suatu saat itu tadi ekosistem jualannya itu. Petani disini yang mau jualan itu jadi punya teman punya potensi jejaring yang tidak perlu maaf di tengahnya (birokrasi) terlalu banyak," jelasnya.

Dhanny menggambarkan dulu jaringan listrik tidak masuk ke kawasan tersebut, seiring perkebunan dan agrowisata berjalan dampak positif warga sekitar juga bisa memperoleh jaringan listrik.

"Dulu listrik nggak ada, sekarang fiber optik saja masuk. Anak-anak disini nanti jadi jago jualan di toko online. Minimal ketika dia jualan online delivery nya dari sini enggak mungkin langsung. Bisa aja (via) mitra pemilik rumah kebun kavling ini yg mintra plasma tadi dia lihat walaupun baru kelas pasar induk. Kita siapkan ruang tumbuh kembang, harapannya berbuah," jelas dia.

(hns/hns)