Evergrande Bayar Utang Jatuh Tempo, Masalah Selesai?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 23 Sep 2021 10:43 WIB
Evergrande
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Perusahaan properti raksasa asal China Evergrande akan membayar bunga obligasi yang jatuh tempo pada Kamis. Namun hal ini masih membuat investor harap-harap cemas dengan nasib mereka berikutnya.

Dikutip dari CNN, disebutkan dalam surat pengajuan di Bursa Efek Shenzhen disebutkan jika pembayaran bunga obligasi yuan sudah dinegosiasikan. Namun Evergrande tidak merinci detail pembayaran tersebut.

Dari data Refinitiv hanya disebutkan jumlah bunga obligasi bermata uang yuan yang jatuh tempo adalah sekitar US$ 36 juta atau setara dengan Rp 513 miliar (asumsi kurs Rp 14.250). Kemudian bunga obligasi mata uang dolar AS yang jatuh tempo pada kamis adalah sebesar US$ 83,5 juta atau setara dengan Rp 1,18 triliun.

Memang perusahaan kakap ini tersandung utang hingga US$ 300 miliar. Utang ini dipegang oleh banyak lembaga keuangan China, investor ritel, pembeli rumah, perusahaan konstruksi, material, dan desain.

Selain itu investor asing juga ada dalam utang tersebut. Beberapa minggu terakhir, perusahaan mengingatkan kepada investor jika ada potensi gagal bayar.

Namun hal ini masih tidak jelas apakah perusahaan benar-benar mengalami default. Lalu belum ada tanda-tanda pemerintah China akan turun tangan untuk masalah ini. Namun gagal bayar ini berpotensi besar untuk membuat gonjang-ganjing pasar keuangan dan ekonomi China.

Awal pekan, pasar global diguncang kekhawatiran terkait Evergrande. Tercermin dari jatuhnya harga saham di bursa Hong Kong dan New York hingga pasar-pasar utama lainnya.

Di bursa Hong Kong, perdagangan saham Evergrande ditutup sementara. Banyak analis meyakini jika pemerintah China akan membantu menyelesaikan masalah tersebut meskipun bukan dengan jalan bailout penuh.

Analis S&P Global Ratings mengungkapkan mereka tidak mengharapkan pemerintah AS untuk memberikan dukungan langsung kepada Evergrande. Hal itu disebut akan merusak citra pemerintah China yang ingin menanamkan disiplin keuangan pada perusahaan besar di sektor properti.

Para analis mengharapkan pemerintah China fokus membantu Evergrande dengan bimbingan ke arah restrukturisasi utang. Lalu sambil memastikan investor ritel dan pembeli rumah mendapatkan perlindungan.

Lihat juga Video: Biden Tak Ingin Cari Perang Dingin Baru, Singgung China?

[Gambas:Video 20detik]




(kil/eds)