Susul Evergrande, 12 Perusahaan Properti China Gagal Bayar Utang

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 17 Okt 2021 18:26 WIB
Business woman holding stack of 100 yuan banknotes money. Chinese yuan currency
Foto: iStock
Jakarta -

Kasus gagal bayar utang di Tiongkok tak hanya menghantam raksasa properti Evergrande. Berdasarkan laporan terbaru Moody's Analytics, ada 12 perusahaan properti atau real estate China yang mengalami gagal bayar utang obligasi sampai masa jatuh tempo selesai.

Ekonom Moody's Analytics Christina Zhu mengatakan nilai gagal bayar 12 perusahaan properti itu mencapai 19,2 miliar yuan atau setara Rp 37,4 triliun (kurs Rp 1.949) pada semester I-2021.

"Ini menyumbang hampir 20% dari total gagal bayar obligasi korporasi dalam enam bulan pertama tahun ini, terbesar dari semua sektor," kata Zhu dikutip dari CNN, Minggu (17/10/2021).

Kondisi itu terjadi dikarenakan pasar properti China yang terus berkurang dalam beberapa bulan terakhir karena pandemi COVID-19. Sebenarnya bisnis mulai bangkit saat kasus penularan mulai melandai.

Sayangnya kebangkitan pasar properti hanya sementara. Pasar properti di China kembali tersendat hingga saat ini. Penjualan turun 18% pada Agustus 2021 dibandingkan dengan waktu yang sama tahun sebelumnya.

Sementara harga rumah naik hanya 3,5% pada Agustus 2021. Angka itu menjadi kenaikan terendah sejak pasar properti pulih dari dampak pandemi.

Masalah lainnya karena banyak proyek properti yang belum selesai. Kepala Ekonom Asia dari Capital Economics, Mark Williams mengatakan 30 juta properti di China belum terjual saat ini. Padahal, properti itu dapat menampung 80 juta orang atau hampir seluruh penduduk Jerman.

Lebih lanjut 100 juta properti yang telah terjual belum ditempati. Padahal, ratusan properti itu bisa menampung sekitar 260 juta orang.

Proyek tersebut menjadi perhatian banyak pihak selama bertahun-tahun. Beberapa pihak menyebutnya sebagai 'kota hantu' di China.

(aid/dna)