Evergrande cs Terancam Bangkrut, Apa Dampaknya?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 27 Okt 2021 10:53 WIB
Evergrande
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Pengembang yang gagal bayar obligasi di China diperkirakan makin banyak. Namun, analis mengatakan, dampaknya belum meluas ke sektor lain.

Masalah keuangan pada perusahaan real estat di China muncul ke permukaan karena Evergrande dan beberapa pengembang lain berjuang membayar utang mereka. Evergrande sendiri berupaya menghindari gagal bayar setelah dilaporkan mengirim dana untuk pembayaran bunga pekan lalu.

"Kemungkinan besar kita akan melihat lebih banyak default (gagal bayar) ... dari pengembang ini," kata Bo Zhuang, analis senior di perusahaan investasi Loomis Sayles seperti dikutip dari CNBC, Rabu (27/10/2021).

Dia mengatakan, peningkatan gagal bayar akan terjadi secara bertahap, seiring dengan otoritas China yang melonggarkan kebijakan yang membebani sektor ini.

Dalam catatannya, penjualan rumah di China telah berhenti menurun dalam dua minggu terakhir. Hal ini menjadi tanda yang baik. Dia menambahkan, hal itu menimbulkan penilaian yang menarik bagi investor.

Pengembang China menguasai sebagian besar pasar obligasi dengan imbal hasil yang tinggi di Asia. Perusahaan-perusahaan tersebut telah berkembang pesat setelah menerima pinjaman yang berlebih.

Pemerintah China pun telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan risiko sektor ini. Salah satunya, dengan membatasi pinjaman di antara pengembang dan memperketat aturan pinjaman.

"Dari perspektif pasar, semua nama properti China dengan imbal hasil tinggi ini telah melalui roller coaster ini. Tetapi jika Anda melihat nama-nama non properti lain di China, dari perusahaan yang telah menerbitkan obligasi, mereka tampaknya baik-baik saja," kata Zhuang.

Menurutnya, sektor perbankan China telah bertahan meskipun ada tekanan di sektor properti. Ia menjelaskan, obligasi yang diterbitkan bank tidak terjadi perubahan yang signifikan dalam imbal hasil. Sementara, saham perbankan belum mendapat pukulan yang besar.

"Sektor properti China kemungkinan akan terlihat berbeda dalam 5 sampai 10 tahun ke depan," kata Zhuang.

Dia memperkirakan, pemerintah akan lebih berperan di sektor ini untuk mengendalikan harga rumah dan proyek-proyek pembangunan. Itu berarti pangsa pasar perusahaan swasta akan menurun, dengan banyak pengembang bangkrut atau bergabung (merger) dengan perusahaan lain.



Simak Video "d'Mentor: 'Persiapan Memulai Bisnis Ala Sandiaga Uno'"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)