Nasib Malang Apartemen di DKI Imbas Pandemi: Kosong, Harga Anjlok

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 10 Feb 2022 13:15 WIB
Optimistis Pembangunan Apartemen di Luar Jakarta

Pekerja menyelesailan Topping off proyek apartemen
Progres pembangunan proyek properti apartemen Podomoro Golf View di Depok, Jawa Barat, Senin (23/10/2017). Harga hunian, khususnya apartemen di Jakarta yang semakin mahal menjadikan pengembang properti di sisi luar Jakarta optimis apalagi dengan keberadaan jalan TOL lingkar luar (JORR) dan LRT yang terus dikembangkan untuk sarana transportasi. Grandyos Zafna/detikcom

-. Pengembang PT Graha Tunas Selaras, entitas anak PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) melakukan prosesi tutup atap atau topping off Tower Balsa. Ini merupakan menara kedua dari rencana 25 menara di atas lahan seluas hampir 60 hektare yang akan dibangun secara bertahap. Hunian terpadu yang akan terdiri dari sekitar 37.000 unit apartemen ini terintegrasi sistem kereta ringan atau LRT.
Ilustrasi Proyek Apartemen/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Sektor properti di masa pandemi COVID-19 terus mengalami koreksi, baik itu pertumbuhan unitnya hingga harga. Perusahaan properti, Knight Frank mengungkap harga properti rumah tinggal seperti kondominium hingga sewa apartemen terus terkoreksi.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat menjelaskan rerata harga kondominium di central business district (CBD) Jakarta mengalami pelemahan hingga -5,1%.

"Pelemahan terjadi pada submarket CBD. Jadi untuk Kondominium kami coba menganalisanya menjadi submarket prime CBD dan Non CBD. Harga unit baru 0,6% relatif lebih sedikit," jelasnya dalam konferensi pers, Kamis (10/2/2022).

Akibat pandemi, juga tercatat banyak unit yang belum terjual. Untuk Kondominium ini tercatat sekitar 9.818 unit. "Secara kumulasi akan bergabung dengan pasukan baru yang akan hadir di tahun ini dan 3 tahun ke depan," ungkapnya.

Kemudian, untuk pasar apartemen sewa disebut tidak ada penambahan unit baru di tahun 2021. Pasokan stagnan masih di angka 8.919 unit. "Dengan tingkat hunian 58,4%," tambahnya.

Untuk harga, terkoreksi cukup jauh dibandingkan kondominium. Harga sewa apartemen menurun -1% hingga -12%.

"Rerata harga sewa apartemen ini masih di bawah tekanan. Rerata pertumbuhan harga sektor apartemen CBD Jakarta memang cenderung melemah," ungkapnya.

Pertumbuhan ruang kantor juga melemah selama pandemi. Dalam catatan Knight Frank Asia Pasifik, pada kuartal 4 2021, rerata harga menurun 0,3%.

Sementara untuk di Jakarta, pertumbuhan ruang kantor pun menurun. Hanya ada 7 juta m2 ruang kantor di CBD Jakarta. Pelemahan ini seiring pola kerja hybrid yang diperkirakan akan tetap menjadi alternatif bekerja.

"Sehingga permintaan ruang perkantoran tetap tertekan di tahun 2022," tulis Syarifah pada paparannya.



Simak Video "Start Bisnis Properti Modal UMR"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)