ADVERTISEMENT

Sri Mulyani Ungkap Masyarakat Akan Makin Sulit Beli Rumah, Ini Biang Keroknya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 06 Jul 2022 12:23 WIB
Pemerintah menaikkan pajak impor barang konsumsi. Pengumuman kenaikan pajak impor barang konsumsi itu dilakukan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (5/9/2018).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Istimewa/Kementerian Keuangan
Jakarta -

Suku bunga di beberapa negara mulai mengalami kenaikan sejalan meningkatnya inflasi. Masalah tingginya suku bunga ini juga terasa di sektor perumahan.

Pasalnya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang tinggi membuat masyarakat kesulitan dalam memiliki rumah. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta masyarakat waspada dengan kenaikan suku bunga.

"Untuk membeli rumah 15 tahun mencicil di awal berat, suku bunga dulu, principal-nya di belakang. Itu karena dengan harga rumah tersebut dan interest rate sekarang harus diwaspadai karena cenderung naik dengan inflasi tinggi," kata dia dalam webinar, Rabu (6/7/2022).

Dia mengungkapkan, kondisi ini dikhawatirkan bisa membuat masyarakat semakin sulit memiliki rumah. "Maka masyarakat akan makin sulit untuk membeli rumah," jelasnya.

Hal ini juga karena pengaruh situasi ekonomi dunia dan akan berdampak pada sektor perumahan di dalam negeri. Sri Mulyani mengungkapkan, pemerintah berupaya membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) bisa memiliki rumah.

Direktur Celios Bhima Yudhistira mengungkapkan tingginya inflasi akan berdampak ke potensi kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI). Dengan naiknya bunga acuan, maka bunga KPR juga akan terkerek.

"Kenaikan bunga KPR khususnya bunga floating akan menjadi pertimbangan debitur untuk membeli rumah," jelas dia.

Dikutip dari publikasi Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang diterbitkan oleh BI, suku bunga KPR di perbankan Indonesia sejak akhir 2020 turun, tapi tak sampai 1%.

Bunga KPR akhir 2020 dan awal 2021 di kisaran 8,5%, periode akhir 2021 8,2% , dan periode Maret 8,11%. Masih tingginya bunga KPR menjadi penyebab terbatasnya penjualan rumah di Indonesia. Sekitar 11,7% responden menyatakan bunga KPR jadi penyebab enggan membeli rumah.

Pada kuartal I-2022 nilai KPR dan KPA secara tahunan naik 10,61% lebih tinggi dibandingkan periode kuartal sebelumnya sebesar 9,76%. Dari sisi konsumen, pembiayaan perbankan dengan fasilitas KPR masih menjadi pilihan utama konsumen dalam pembelian properti residensial dengan pangsa 69,54% dari total pembiayaan, diikuti oleh tunai bertahap sebanyak 21,79% dan secara tunai 8,67%.

Saksikan juga: Anggota Dewan Pengawas BPKH: Mengatasi Biaya Haji yang Semakin Tinggi.

[Gambas:Video 20detik]





(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT