ADVERTISEMENT

Bunga Tinggi Bikin Susah Punya Rumah, Milenial Harus Gimana?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 07 Jul 2022 14:28 WIB
beli rumah
Foto: shutterstock
Jakarta -

Suku bunga tinggi disebut menjadi salah satu penyebab sulitnya masyarakat untuk memiliki rumah. Memang bunga kredit pemilikan rumah (KPR) di Indonesia saat ini masih terbilang tinggi bahkan berada di belasan persen.

Wakil Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Nixon Napitupulu mengungkapkan saat ini BTN memiliki program KPR BTN Gaess untuk para generasi milenial yang ingin memiliki hunian idaman.

Nixon menjelaskan untuk KPR Gaess diharapkan generasi milenial ini bisa mendapatkan fasilitas KPR. "Jadi bunganya akan naik secara bertahap, seiring dengan naiknya income milenial," kata dia di Menara BTN, Kamis (7/7/2022).

Kriteria debitur ini adalah memiliki penghasilan fixed income, masa kerja minimal 1 tahun. Lalu rentang usia yakni dari 21 tahun sampai 40 tahun.

Kemudian, calon debitur juga tidak akan ditabasi plafond kreditnya. Jangka waktu maksimal 20 tahun untuk kredit pemilikan apartemen (KPA) BTN, lalu maksimal 30 tahun untuk KPR BTN.

Selanjutnya untuk suku bunga diberikan kebijakan suku bunga promo sesuai ketentuan yang berlaku. Atas suku bunga tersebut di atas calon debitur dibebaskan dari pengendapan dana di tabungan. Lalu fasilitas uang muka mulai dari 0% sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu ada seluruh biaya proses dapat dimasukkan ke dalam maksimal kredit selama masih memenuhi ketentuan LTV dan RPC. Pengajuan kredit wajib aplikasi online yakni melalui btnproperti.co.id.

"Program ini dapat dibundling dengan produk KPR Zero (hanya membayar bunga 2 tahun). Program dapat dibundling dengan fitur produk Graduated Payment Mortgage (GPM) cicilan super ringan dengan kenaikan bertahap," jelasnya.

Dikutip dari publikasi Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang diterbitkan oleh BI suku bunga KPR di perbankan Indonesia sejak akhir 2020 memang mengalami penurunan tapi tak sampai 1%.

Bunga KPR akhir 2020 dan awal 2021 tercatat di kisaran 8,5% dan periode akhir 2021 8,2% dan periode Maret 8,11%.

Dari laporan juga disebutkan jika masih tingginya suku bunga KPR ini juga menjadi penyebab terbatasnya penjualan rumah di Indonesia. Sekitar 11,7% responden menyatakan bunga KPR jadi penyebab enggan membeli rumah.

Pada kuartal I 2022 nilai KPR dan KPA secara tahunan tercatat naik 10,61% lebih tinggi dibandingkan periode kuartal sebelumnya sebesar 9,76%.

Laporan juga menjelaskan dari sisi konsumen, pembiayaan perbankan dengan fasilitas KPR saat ini masih menjadi pilihan utama konsumen dalam pembelian properti residensial dengan pangsa 69,54% dari total pembiayaan, diikuti oleh tunai bertahap sebanyak 21,79% dan secara tunai 8,67%.



Simak Video "Sri Mulyani soal Subsidi Rp 350 T: Agar Harga Listrik-BBM Tak Naik"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT