Dihantam Suku Bunga Naik hingga Inflasi, Pengembang Pede Properti Masih Moncer

ADVERTISEMENT

Dihantam Suku Bunga Naik hingga Inflasi, Pengembang Pede Properti Masih Moncer

Almadinah Putri Brilian - detikFinance
Rabu, 30 Nov 2022 16:10 WIB
Rumah murah di Citayam-Bojonggede
Foto: Rumah murah di Citayam-Bojonggede/Sylke Febrina Laucereno/detik
Jakarta -

Pengembang masih optimistis tahun depan industri properti akan semakin tumbuh. Hal itu meski masih banyak kendala dan tantangan yang dihadapi.

Sejumlah kendala dan hambatan yang dihadapi di antaranya tingginya tingkat inflasi, naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-7 Day (Reverse) Repo Rate (BI7DRR), ancaman resesi tahun 2023, dan masuknya tahun politik.

"Kenaikan suku bunga acuan sampai saat ini belum mempengaruhi ke suku bunga KPR karena untuk menaikkan, perbankan melihat dari banyak faktor," ujar Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia, Hari Ganie mengatakan, Hari Ganie dalam keterangan tertulis, Rabu (30/11/2022).

Hari Ganie mengungkapkan, pengembang properti tahun depan tetap optimis ekonomi makro Indonesia akan terus bagus. Terlebih lagi, Indonesia memiliki kekhasan, negara kepulauan yang memiliki basis ekonomi yang berbeda.

"Pengembang properti akan terus melakukan inovasi terhadap banyak hal untuk menggaet pembeli, seperti konsep perumahan, desain, dan fasilitas," ucap Hari Ganie.

Lebih lanjut Hari Ganie mengatakan, REI akan terus mendorong pemerintah agar kembali memberikan berbagai stimulus untuk mendorong industri properti di tengah semakin banyaknya tekanan. Seperti pemberian kembali insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100% yang terbukti efektif meningkatkan daya beli masyarakat.

Sementara itu, Managing Director Synthesis Huis Aldo Daniel juga mengungkapkan pihaknya tidak terlalu khawatir kenaikan suku bunga KPR akan mengganggu minat pembeli proyeknya. Hal itu disebabkan mayoritas pembeli atau di proyek hunian tersebut adalah end user dan pembeli rumah pertama (first home buyers). Kelompok di pasar ini biasanya membeli rumah karena kebutuhan.

"Rumah adalah kebutuhan. Setiap saat ada orang yang menikah dan mereka pasti membutuhkan rumah untuk keluarganya. Jadi kami yakin pasar residensial tetap bergerak meskipun bunga KPR naik," jelasnya.

Selain itu, Synthesis Huis menargetkan segmen kelas menengah atas dengan harga jual mulai Rp 1 miliar per unit sehingga mayoritas pembeli atau sekitar 60% membeli secara tunai bertahap serta sisanya tunai dan KPR. Pengembang juga selalu aktif melakukan promo termasuk subsidi bunga.

"Memang untuk produk Synthesis Huis ini pasarnya premium, sehingga tidak terlalu banyak terpengaruh dengan bunga KPR atau resesi, karena mayoritas pembeli di segmen ini sudah siap dengan pendanaan," jelas Aldo

Aldo juga mengatakan bank-bank saat ini gencar memberikan promo berupa suku bunga rendah yang berlaku flat (fixed) selama 1-3 tahun atau sampai ekonomi membaik. Synthesis Huis sedang fokus melakukan pengerjaan konstruksi rumah untuk memenuhi serah terima unit secara tepat waktu.



Simak Video " Bisnis F&B Hingga Properti Pontesial Cuan di 2023"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT