Bupati Tak Izinkan Ada Mal ataupun Retail Modern di Banyuwangi

Bupati Tak Izinkan Ada Mal ataupun Retail Modern di Banyuwangi

Budi Sugiharto - detikFinance
Kamis, 26 Jul 2012 10:38 WIB
Bupati Tak Izinkan Ada Mal ataupun Retail Modern di Banyuwangi
Banyuwangi - Bagi pengusaha yang ingin membangun mal di Kabupaten Banyuwangi sebaiknya mengurungkan niatnya. Bupati Abdullah Azwar Anas dipastikan tidak akan menerbitkan izin. Sebab Banyuwangi lebih membutuhkan investor yang tertarik menanamkan duitnya untuk hotel bintang 3 ataupun 4.

"Buat apa mal di Banyuwangi. Masyarakat di sini belum membutuhkan saat ini," kata Azwar Anas saat menemui wartawan yang sedang mengikuti test drive jaringan Telkomsel persiapan menyambut mudik di Rumah Kopi, Kemiren, Glagah, Banyuwangi, Kamis (26/7/2012).

Keberadaan mal bagi politisi yang pernah duduk di senayan ini akan membuat masyarakat Banyuwangi konsumtif dan mematikan pasar-pasar tradisional maupun pedagang di perkampungan. Menurutnya ada tiga pengusaha dari Jakarta dan Surabaya yang pernah berniat membangun mal di Bumi Blambangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tegas juga terhadap retail-retail modern. Tidak akan kasih izin buat mereka. Biarlah pedagang-pedagang kecil di Banyuwangi hidup. Kalau ada yang mau bangun hotel bintang tiga atau empat silahkan karena Banyuwangi sebagai ekowisata sangat membutuhkan," kata Azwar Anas.

Menurut Azwar Anas, saat ini retail moderen yang terlanjur mendapat izin dari bupati sebelumnya sengaja dibiarkan. Namun bila ada yang mengajukan izin pendirian baru lagi, dia memastikan akan menolaknya.

"Di meja saya menumpuk pengajuan izin retail-retail moderen. Saya nggak mau kasih izin. Kemarin aja kita tutup retail-retail moderen yang tidak punya izin tapi nekat saja beroperasi," ungkap politisi pengagum Gus Dur ini.

Formatur Ikatan Sarjana NU ini juga berbuat tegas terhadap keberadaan reklame-reklame yang banyak berdiri di wilayahnya. "sekarang kita minta semua. Banyak yang kita tebangi itu," katanya.

Namun, Azwar Anas menyatakan izin untuk mal akan diberikan bila Indeks Prestasi Manusia (IPM) di Banyuwangi lebih dari 7,6. "Jika IPM sudah lebih 7,6, silahkan bangun mal di sini," kata Azwar Anas yang mengaku banyak belajar menata kota dari luar negeri itu.

Kebijakannya yang keras itu kata Azwar Anas bukan sebagai kebijakan yang anti investasi untuk perkembangan daerahnya.
'
"Saya melakukan semua itu untuk melindungi warga Banyuwangi. Bahkan PNS di sini saya larang keras untuk menyajikan buah-buah impor di setiap kegiatan. Menjenguk orang sakit kalau bawa buah ya wajib buah lokal," tandasnya.

Meski dianggap 'kejam', namun Banyuwangi masih tetap diminati investor asing yang ingin mengembangkan ikan kemasan. "Dari Swiss dan beberapa negara sudah ke sini, ingin investasi dengan skala besar," tambahnya.

(gik/dru)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads