Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Lucky Eko menuturkan transportasi massal tersebut memang sudah seharusnya ada di Indonesia. Alasannya, perekonomian Indonesia kini sudah jauh lebih baik.
"Memang sudah seharusnya kita memiliki transportasi massal seperti ini. Karena perekonomian kita sudah lebih baik," kata Lucky kepada detikfinance, Kamis (30/1/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya bagaimana kebutuhan ekonomi sekarang, iya kan kemajuan negara sudah bertambah, kan nggak mungkin transportasinya kayak-kayak gini saja," jelasnya.
Seperti layaknya Jepang, sudah mampu menghubungkan kota-kota besarnya dengan kereta cepat. Seperti dari Tokyo ke Osaka dan berlanjut ke kota lainnya. Sehingga dapat mengefektifkan waktu yang dimiliki warga negaranya.
Lucky menilai tidak mungkin, hingga sekarang masyarakat cuma bisa memanfaatkan jalan, bus ataupun kereta biasa. "Tidak mungkin cuma mengandalkan yang ada saja. Harus ada trasportasi yang lebih baik. Salah satunya itu kereta cepat," ungkapnya.
Seperti diketahui, studi dari proyek ini akan dilakukan oleh Japan International Consultan of Transportation (JICA). Biaya studi adalah hibah dari JICA sebesar US$ 15 juta. Namun secara total, biaya proyek akan mencapai Rp 58 triliun.
Rencananya rute kereta ini menghubungkan Stasiun Dukuh Atas di Jakarta dengan Gedebage di Bandung dengan panjang rel 144 Km. Di samping itu juga ada tiga stasiun pemberhentian, yaitu Stasiun Bekasi, Stasiun Cikarang dan Stasiun Karawang, Jawa Barat.
(mkj/hen)
