Selain beras, kelebihan produksi alias surplus produk pertanian bakal terjadi pada komoditas pangan jagung di 2015. Namun faktanya komoditas pangan ini masih diimpor setidaknya hingga 4 bulan pertama 2015.
Berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) I Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung di dalam negeri mencapai 20,67 juta ton pipilan kering jagung.
Angka ini tercatat meningkat sekitar 1,66 juta ton atau setara 8,72% dari produksi jagung 2014 yang hanya sebanyak 19,01 juta ton pipilan kering.β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari data tersebut tercatat bahwa peningkatan tertinggi secara absolut terjadi di 5 Provinsi penyumbang terbesar diantaranya:
- Jawa Timur naik 8,24% menjadi 6,2 juta ton pipilan kering
- Sumatera Utara naik 24,39% menjadi 1,4 juta ton pipilan kering
- Jawa Tengah naik 9,14% menjadi 3,3 juta ton pipilan kering
- Nusa Tenggara Barat naik 31,21% menjadi 1,03 juta ton pipilan kering
- Sulawesi Selatan naik 7,42% menjadi 1,6 juta ton pipilan kering
Jumlah produksi tersebut diprediksi melebihi angka kebutuhan atau konsumsi jagung oleh masyarakat yang hanya sebanyak 19,25 juta ton pipilan kering. Dengan produksi mencapai 20,67 juta ton pipilan kering, maka produksi jagung tahun ini diprediksi surplus sekitar 393.000 ton pipilan kering.
Faktanya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor jagung Februari 2015 tercatat mencapai 300.986 ton atau US$ 71,3 juta. Angka ini tak jauh berbeda dibandingkan bulan sebelumnya dengan volume 341.657 atau US$ 75,3 juta. Akumulasi impor jagung dalam dua bulan mencapai 642.644 ton atau US$ 146,6 juta atau kurang lebih Rp 1,9 triliun.
Selain itu, tercatat impor jagung pada April 2015 tercatat sebesar 212.256 ton atau senilai dengan US$ 48,9 juta. Akumulasi dari Januari-April, impornya adalah sebesar 1,3 juta ton atau US$ 302,5 juta.
Bahkan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman pernah mengatakan Indonesia masih ketergantungan impor jagung sampai 3 juta ton per tahun.