Wah, ternyata Pak Suhendra sedang bingung yah mau ngapain di pasar saham. Kalau saham sedang naik tidak berani masuk karena takut ketinggian, tunggu koreksi dulu katanya. Eh, pas pasar koreksi kembali tidak berani masuk karena takutnya pasar turun lebih dalam. Lalu pasar rebound dan kita masih belum berani masuk, takutnya ini cuma jebakan Batman.
Lalu kapan investasi di sahamnya dong ya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ngomong memang mudah, tapi gimana caranya? Saran saya simple, investasi di saham sebenarnya sama dengan investasi di sector riil. Pertama tama yang harus dilakukan adalah mencari perusahaan yang sedang bertumbuh. Setelah ketemu, baru lihat harganya sudah mahal atau belum.
Indikasi perusahaan bertumbuh saya biasa melihat minimal Pendapatan dan Laba Bersih setahun ke depan tumbuh 15%. Setelah ketemu, tinggal lihat perusahaan ini masih murah atau sudah mahal. Cara paling simple adalah membandingkan PER (Price to Earnings Ratio) dalam 5 tahun terakhir.
Saya ambil contoh dua perusahaan, yaitu ASII. Untuk data saya ambil dari website Reuters.
Untuk ASII, Pendapatan di akhir 2014 diproyeksikan tumbuh 11.50% dan Laba Bersih tumbuh 13.45%. Dari sini saja sebenarnya sudah tidak masuk criteria saya. Lalu dari sisi PER, tertinggi dalam 5 tahun di level 16.84x dan terendah 4.65x. Saat ini PER ASII ada di level 14.29x. Dari sisi PER, kelihatannya ASII sudah cukup tinggi.
Karenanya, sebagai INVESTOR saya melihat ada risiko investasi di saham ini.
Sedangkan sebagai TRADER, saya Bapak juga harus melihat apakah tipe Momentum Trader atau Swing Trader. Sebagai Momentum Trader Bapak beli saham yang sedang naik (bisa dilihat dari indicator MA26) dan sebagai Swing Trader Bapak beli saham saat rebound (lihat indicator Stochastic).
Semoga jawaban saya membantu.
(ang/ang)











































