Bisnis Pernak-pernik Imlek Tetap Berkibar di Tengah Krisis

Bisnis Pernak-pernik Imlek Tetap Berkibar di Tengah Krisis

- detikFinance
Senin, 12 Jan 2009 09:03 WIB
Bisnis Pernak-pernik Imlek Tetap Berkibar di Tengah Krisis
Jakarta - Tahun baru imlek 2560 kali ini memang bertepatan dengan kondisi ekonomi dunia yang sedang lesu. Tapi semangat perayaan dimulainya musim semi di Tanah Air tidak terlihat tanda-tanda kelesuan.

Walaupun perayaan imlek masih berlangsung 2 pekan lagi, suasana perayaan sudah terasa, hal ini dapat dilihat dari tingkat kunjungan pembeli asesoris imlek di kawasan Glodok, Jakarta yang kini menjadi sangat ramai.

Akibatnya, banyak orang memanfaatkan kesempatan ini dengan menjajakan segala macam kebutuhan imlek mulai dari tingkat asongan hingga agen atau toko-toko besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bisnis pernak-pernik imlek mulai berkembang pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur tahun 1999. Pada masa itu pernak-pernik imlek seperti lampion, hiasan, pohon mehwah dan lain-lain boleh diperjualbelikan secara bebas meski dalam jumlah terbatas.

Setiap tahun perkembangannya terus mengalami peningkatan seiring terbukanya pasar dari semua kalangan karena sekarang imlek tidak hanya dipandang sebagai perayaan satu agama tertentu saja, melainkan sudah menjadi kebutuhan tradisi orang Tionghoa.

Asal tahu saja, hampir semua pernak-pernik imlek dalam jumlah sangat besar setiap tahunnya diimpor langsung dari China karena produksi lokal belum bisa meladeni kebutuhan pembeli musiman imlek. Makanya, bagi anda yang mau terjun dibisnis ini bisa menjadi kesempatan besar, lho.

"Semuanya kita impor dari Kuang Chow dan Sen Chen di China, kalau produksi lokalnya belum ada, memang di Semarang ada pembuat lampion, tapi jumlahnya sedikit," kata pemilik Toko Ceria Uniq Elis Susanan yang berada di kawasan Glodok, Jakarta ketika ditemui detikFinance, Minggu (11/1/2009).

Menurut Elis, umumnya para pembeli pernak-pernik imlek selain berasal dari pembeli ritel keluarga. Namun banyak juga pembeli untuk kebutuhan kantor, mal, tempat ibadah dan lain-lain.

Pernak-pernik itu menurut Elis, memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Tionghoa. Misalnya ornamen gantungan dan uang yang berwarna emas agar si pemilik selalu mendapat rezeki kemakmuran.

Selain itu ada sepasang boneka selamat datang, replika nanas emas bermakna agar uang si pemilik bisa terus berkembang. Ada juga reflika simbol jeruk, ikan berwarna emas dan pohon mehwah selain untuk mempercantik ruangan yang diartikan sebagai simbol musim semi mewakili keceriaan. Selain itu ada beberapa pernik tambahan seperti pakain baju, sepatu, topi, sandal khas orang Tionghoa.

Untuk masalah harga, terbilang cukup variatif misalnya untuk berbagai ukuran, kualitas dan model dijual sepasang mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 600.000, pernak-pernik gantungan mulai dari Rp 25.000 sampai Rp 100.000.

Sedangkan pohon mewah non-original dijual mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 1 juta, sedangkan yang asli dijual Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per lusin (12 batang).

Nah, yang satu ini tidak pernah ketinggalan, yaitu kue keranjang yang dijual Rp 20.000 per kilonya atau satu potongnya seharga Rp 10.000 saja. "Pembeli 5 hari lalu sudah mulai ramai, puncaknya nanti menjelang H-5 perayaan imlek," katanya.

Elis mengakui omzet tahun ini dan dari sisi pembeli perharinya mengalami penuruan sebesar 10%, tapi itu menurutnya tidak terlalu signifikan. Misalnya dalam per hari ia bisa meraup omset Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per hari. "Memang demand-nya masih ada, tapi turun sampai 10%," imbuhnya.

Lain halnya dengan Agus, salah satu penjaja pernak-pernik imlek asongan omsetnya lumayan besar juga bisa mencapai Rp 200.000 per hari dengan margin hingga Rp 50%.

"Kalau kita di asongan lebih banyak jual gantungan Rp 10.000 tiga, dan angpao yang paling laku," jelas Agus.

(hen/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads