Itu yang ada di benak Tita Khairinnisa, salah satu pendiri tas bekal makan siang bernama Lunchi. Tas kedap panas tersebut bermotif dan desain hewan-hewan asli Indonesia yang hampir punah.
“Kami berharap koleksi perdana Lunchi dapat mendukung kecintaan anak-anak terhadap hewan-hewan asli Indonesia. Kami mendesain tas ini dengan warna-warna terang dan gambar binatang yang dibuat lucu agar anak-anak semakin menyukai bintang-binatang ini,” kata Tita, Sabtu (26/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagian dalam lunchi terbuat dari lapisan alumunium foil yang akan membuat suhu makanan tetap hangat hingga 5-7 jam. Sedangkan bagian luarnya disesuaikan dengan kebutuhan anak yaitu ada tempat untuk menyimpan tissue atau lap makan, dan tempat kartu nama untuk anak.
Lunchi bisa dibawa dengan dua cara yaitu dipegang handle-nya yang menempel pada tas atau memakai tambahan tali untuk selempang, menyesuaikan kebutuhan anak.
Berdasarkan kebutuhan masyarakat perkotaan untuk membawa bekal baik itu ke sekolah, ke kantor ataupun ke tempat aktivitas lainnya, Lunchi memberikan alternatif tas pembawa bekal yang mendukung pengetahuan wawasan keindonesiaan dalam produknya.
“Tidak hanya mendukung gaya hidup sehat, koleksi perdana Lunchi ini juga sebagai media pembelajaran khususnya tentang binatang dengan cara yang sederhana dan enak,” ujar Tita.
Lunchi didirikan oleh dua mahasiswi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Tisa Putrinda dan Tita Khairinnisa. Tas bekal ini merupakan proyek pertama keduanya dalam bisnis peralatan makan.
Lunchi menargetkan bisa menjual 200 buah per bulan. Target omzet yang Lunchi harapkan adalah Rp 36 juta tiap bulan. Strategi marketing yang Lunchi terapkan di antaranya adalah memanfaatkan media sosial digital untuk membuat word of mouth marketing.
Proses produksi Lunchi dibagi menjadi beberapa langkah yaitu proses desain, proses cetak gambar dan proses jahit. Untuk proses desain dan cetak dilakukan oleh desainer dengan pengawasan dan approval si pemilik Lunchi.
(ang/ang)











































