Jalan awal Andi memulai usaha dilakukan pada 2007. Saat itu Sumari, ayah Andi, mengalami kecelakaan kerja di sebuah bengkel kayu dan harus menjalani operasi. Keluarganya harus menyediakan dana Rp 30-40 juta untuk biaya operasi.
Andi yang waktu itu baru duduk di semester dua kelimpungan mencari dana talangan. Sebab, dana yang dimiliki keluarganya tak mencukupi untuk biaya operasi itu dan bila ayahnya berhenti bekerja maka tak ada pemasukan bagi keluarganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andi pun rajin mengajar les baik di lembaga bimbingan belajar maupun secara privat. Selain itu dia juga mengikuti bermacam lomba mahasiswa mulai dari desain sampai karya ilmiah dan sempat beberapa kali menang. Tapi tetap saja penghasilannya tak cukup untuk memenuhi biaya operasi ayahnya. Dia pun kemudian mengutang ke beberapa teman hingga orangtua murid untuk memenuhi biaya operasi tersebut.
Setelah ayahnya sembuh total, Andi berpikir untuk memberikan kegiatan bagi ayahnya. Selain untuk kesibukan ayahnya, ada utang yang harus dia bayar kepada teman-temannya. Dia pun kemudian memutuskan untuk beternak kambing di tanah kelahirannya Cirebon. Pilihan ini berdasar pengalamannya ketika belajar cara beternak kambing di daerah Jakarta Utara.
Andi tak memiliki modal untuk memulai usaha, karena tabungannya tersedot untuk biaya berobat ayahnya. Dia pun kemudian mengajak temannya untuk bergabung menjadi investor dan memulai usaha peternakan kambing. Teman pertama menyanggupi dan menggelontorkan dana Rp 8 juta.
“Waktu itu saya modal kepercayaan dan bilang secara lisan. Tak ada proposal maupun business plan,” kata Andi.
Tak disangka setelah menjalankan bisnis peternakan kambing tersebut banyak pihak yang tertarik untuk menanamkan modalnya. Uniknya, semua itu dia lakukan tanpa proposal formal. Hanya lewat obrolan saja. Dalam beberapa bulan berikutnya sudah ada 20 investor yang bergabung.
Dana yang dikelola pun tak main-main sebesar Rp 200 juta. Padahal waktu itu Andi baru duduk di semester 4 di jurusan Teknik Mesin, Universitas Indonesia. Idul Adha adalah masa panen bagi bisnisnya pada 2008 perputaran uangnya mencapai Rp 200 juta dan pada tahun berikutnya meningkat tiga kali lipat. Namun hal itu justru jadi masalah baginya.
“Pada 2009, omzet penjualan hewan kurban mencapi Rp 600 juta. Tapi ini justru jadi masalah. Waktu itu semua permintaan saya sanggupi. Akhirnya saya cari hewan kurban ke mana-mana sampai istirahat kurang. Setelah itu saya ambruk dan sakit dua minggu. Dari situ saya belajar bahwa kita tidak boleh rakus dalam mengejar rezeki,” tambah Andi.
Dari situ juga terbesit ide dari Andi untuk mengembangkan bisnis yang penghasilannya lebih stabil. Untuk peternakan dan penjualan hewan, Idul Adha memang mendatangkan banyak keuntungan, tapi bulan-bulan lain tak terlalu ramai. Dari gurunya di Jakarta Utara dia mendapat masukan untuk menjalankan katering, khususnya akikah.
Dia pun kemudian mulai menjalankan bisnis katering akikah. Setiap hari dia gencar menyebar brosur, khususnya di daerah Depok dan Jakarta Selatan. Penghasilannya ternyata cukup menggembirakan dari bisnis baru ini. Andi pun tambah bersemangat menjalankan bisnis katering akikah ini.
Awalnya dia memesan masakan di tempat lain. Tapi seiring dengan meningkatnya permintaan, dia memutuskan untuk mencari karyawan sendiri. Kebetulan waktu itu ada kenalannya yang jago memasak sedang tidak bekerja. Dimulailah usaha katering akikah ini dengan dapur di daerah Pancoran Mas, Depok.
Saat ini usaha katering akikahnya bisa menerima pesanan sekitar 200-300 kambing per bulan. Tingginya pesanan tersebut membuat Andi memerlukan banyak karyawan. Sekarang ini usaha kateringnya sudah memiliki karyawan 35 orang.
Soal omzet Andi tak membuka dengan detil berapa jumlahnya. Tapi ia mengatakan satu kambing harganya berkisar Rp 900.000-1 juta. Berarti paling tidak omzet minimalnya Rp 200 juta. Satu-satunya bulan yang omzetnya turun drastis adalah di bulan Ramadhan.
“Omzetnya bisa turun sampai 80%. Tapi memang begitulah bisnis, ada naik turunnya. Saya jalani saja tanpa mengeluh dan tetap positive thinking. Yang penting rezeki itu berkah, jadi berasa nikmatnya,” tambah Andi.
Selain sukses menjalankan usaha katering akikah, sejak dua tahun lalu ayah tiga anak ini juga membuka bisnis biro perjalanan haji dan perjalanan ke luar negeri. Tapi lagi-lagi ia tak mau membuka berapa omzetnya usaha keduanya. Ia hanya mengatakan bulan ramai biro perjalanan ini tidak seperti bisnis katering. Biasanya bulan-bulan ramai adalah bulan-bulan liburan dan awal tahun.
Kesulitan yang dihadapi di masa kuliah ternyata justru menjadi pemicu bagi Andi untuk meraih sukses. Selain sukses dalam menjalankan bisnis, Andi juga meraih berbagai penghargaan seperti juara Wirausaha Muda Mandiri, Youth Start Up Icon Honda dan masih banyak lagi.
(ang/ang)











































