Follow detikFinance
Selasa 05 Dec 2017, 07:12 WIB

Laporan dari Tokyo

Raymond dan Jagung Ajaib Persembahan untuk Soeharto

Sudrajat - detikFinance
Raymond dan Jagung Ajaib Persembahan untuk Soeharto Foto: Sudrajat
Tokyo - Selama ini umumnya jagung biasa dikonsumsi setelah direbus, dibakar, digoreng, atau dibuat berondong. Tapi Raymond Setyono berhasil mengembangbiakan jagung organik varietas unggul yang ajaib sebab dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu dimasak. Hal itu terwujud setelah selama lebih dari 20 tahun dia dengan tekun melakukan penelitian dan berbagai uji coba.

"Bibit awalnya sih dari Amerika Serikat (American Fruit Corn). Tapi sekarang ya cuma saya yang punya jagung jenis ini. Di Amerika enggak mungkin bisa tumbuh," kata Raymond saat ditemui detikFinance di sela-sela Forum Bisnis Indonesia – Jepang di Tokyo, pekan lalu.

Selepas menimba ilmu bidang teknik kimia di sebuah universitas di Amerika pada 1975, dia sempat bekerja di 'Negeri Abang Sam' itu selama beberapa tahun. Hingga pada satu titik Raymond terpecut untuk mendalami masalah pertanian di tanah air. Jiwanya makin tertantang untuk menghasilkan produk-produk unggul di bidang pertanian setelah dua kali berkunjung ke China.

Saat pertama kali ke 'Negeri Tirai Bambu' itu pada 1981, Raymond menilai kondisi teknologi pertanian China masih jauh tertinggal dari Indonesia. Tapi begitu kembali pada 1994, dia terperangah karena perkembangannya sudah melesat dan mendekati teknologi pertanian di AS. Perubahan drastis yang terjadi di China itu berkat kebijakan pemimpin China, Deng Xiao Ping yang menginvestasikan segenap sumber daya China untuk mengirimkan para pelajar dan mahasiswanya sekolah ke luar negeri.

"Ada sekitar 40 ribu pelajar dan mahasiswa yang diberi beasiswa untuk belajar macam-macam di luar negeri. Sekarang lihat hasilnya, negeri itu menjadi super power dunia," ujar Raymond.

Raymond dan Jagung Ajaib Persembahan untuk Soeharto.Raymond dan Jagung Ajaib Persembahan untuk Soeharto. Foto: Sudrajat

Selepas bekerja di Amerika, Raymond mengelola lahan pertanian di Lembang, Bandung Utara. Selama dua tahun dia sengaja mengembangkan benih-benih unggulan di bidang pertanian. Setelah dua tahun, karena alasan tertentu kemudian dia pindah ke Purwakarta, Jawa Barat. Tapi aktivitas tersebut rupanya terendus oleh Presiden Soeharto yang punya perhatian khusus terhadap pertanian dan peternakan.

Selain mengembangbiakkan sapi dari berbagai ras dan domba, Soeharto juga memiliki green house di Tapos, Bogor. Lembaga kajian itu dipimpin oleh ahli pertanian dari Belanda.

Awalnya, Raymond mengaku sangat grogi saat pertama kali bertemu dan berbicara di hadapan Soeharto. Tapi ternyata penguasa Orde Baru itu pribadi yang menyenangkan dan bisa membuat lawan bicaranya nyaman. Apalagi dia sepertinya menguasai betul seluk-beluk dunia pertanian.

"Jadi, pada suatu hari di awal 1990 saya dipanggil Pak Harto. Kami bicara banyak soal pertanian, dan akhirnya saya diminta membantu di Tapos," ujar Raymond. Dia mengaku diberi keleluasaan penuh untuk melakukan penelitian dan mengembangkan berbagai bibit tanaman. Kalau ada masalah dia biasa menyampaikan langsung kepada Soeharto untuk mendapatkan solusi.

Sejak 1995 dia pun mulai melakukan riset untuk beberapa komoditas pertanian agar menjadi bibit atau produk unggul. Sebelum jagung yang sudah mendapat sertifikat, sejak sekitar 10 tahun lalu, dia menghasilkan buah melon unggul. Karena itu dia agak masygul ketika Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di hadapan direksi Aeon memuji kelezatan buah melon Jepang.

"Wah, kenapa bapak bilang melon Jepang paling enak. Kalau bapak mencicipi melon dari kebun saya, pasti kesimpulan bapak berbeda," kata Raymond.

"Ah kenapa tidak bilang dari awal. Saya tahunya you cuma menghasilkan jagung," Enggartiasto menukas.

Sejak dua tahun lalu dia mulai berani mengurus sertifikasi bagi jagung unggulannya. Sebab dalam dua tahun terakhir itulah produk jagungnya mulai stabil rasanya. Kisarannya antara 90-98 persen, produk jagung saya secara rasa sudah stabil.

Sertifikasi pertama didapat dari Sucofindo. Lembaga ini antara lain meneliti kandungan Vitamin C, air, dan potassium (Kalium) pada Juli 2016. Selain itu, Lembaga Ketahanan Pangan Provinsi NTB pada 22 September 2016 juga menerbitkan sertifikat Prima 3. Lembaga itu menyatakan produk jagung yang diproduksi Raymond Setyono, "Aman dengan level residu di bawah ambang batas".

Untuk satu hektare, menurut Raymond Setyono, jagung ini menghasilkan 30 ribu tongkol. Dia punya lahan di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur seluas empat hektare dan di Banyuwangi 10 hektare. Tapi karena curah hujan di Banyuwangi tergolong cukup tinggi, dia berencana untuk memindahkan lahan jagungnya ke Sembalun yang relatif lebih kering.

"Secara bertahap akan saya pindahkan full di Sembalun. Soal curah hujan yang minim akan disiasati dengan sumur pompa," kata Raymond.

Produknya sudah dipasarkan ke Jakarta, Singapura, dan Hongkong. Setiap pekan dia mengaku bisa memanen sekitar 10 ribu batang atau tongkol jagung. Harganya per buah Rp 10 ribu. "Jagung ini bagus untuk penderita diabetes, karena gula yang dikandungnya alami atau slow release, kadar tepungnya juga rendah," ujarnya.

Raymond menganggap keberhasilannya mengembangkan jagung varietas unggul itu sebagai upayanya membayar utang kepada Presiden Soeharto. Sebab sudah lama Soeharto berobsesi para petani di Indonesia dapat mengembangkan produk pertanian, perkebunan, dan peternakan yang dikelola dan dikembangkan secara mandiri. Hasilnya tak cuma untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri tapi juga untuk konsumsi ekspor ke manca negara.

"Ini persembahan saya untuk Pak Harto. Beliau itu sangat visioner di bidang pertanian," ujar Raymond menutup percakapan. (jat/mkj)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed