Follow detikFinance
Kamis, 15 Feb 2018 20:15 WIB

Kisah Ibu-ibu di Riau Bisnis Batik Beromzet Rp 30 Juta/Bulan

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom
Pelalawan - Membuat kain batik tak semudah yang dibayangkan. Bukan hanya menggambar pola dan melapisinya dengan lilin, membatik butuh keahlian dalam hal pewarnaan. Tantangan itu dialami ibu-ibu dalam kelompok usaha Rumah Batik Andalan, di Kabupaten Pelalawan, Riau.

Ketua Rumah Batik Andalan, Siti Nurbaya, mengungkapkan ia dan rekan-rekannya yang lain mengalami kesulitan mulai dari pengadaan bahan-bahan hingga teknik membatik yang benar. Hal itu dirasakan saat mereka masih dalam proses membangun usahanya.

Mereka sebenarnya telah mendapatkan pelatihan dari PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dalam belajar membatik dan pengelolaan usaha. Namun, dengan waktu pelatihan yang hanya seminggu, Siti mengatakan itu tidaklah cukup.

"Kita sempat vakum karena kita masih bingung. Karena memang benar-benar dari nol jadi belum tahu membatik itu seperti apa. Jadi pelatihan pertama itu tidak cukup bagi kami. Karena itu kita masih vakum setengah tahun," ujarnya di Pelalawan, Riau.

Beromzet Rp 25 Juta/Bulan, Ini Kisah Ibu-ibu Pelalawan Menjual BatikFoto: Moch Prima Fauzi/detikcom

Mereka akhirnya kembali mendapatkan dukungan dari PT RAPP untuk menimba ilmu ke Imogiri, Yogyakarta. Di sana mereka mengunjungi sentra pembuatan batik selama satu pekan untuk belajar batik tulis.

"Kemudian dibawa ke Yogya di Imogiri. Kita lihat ibu-ibu proses membatik. Kita hanya melihat tapi dari situ kita mulai terbuka, oh ternyata seperti ini," ungkap Siti.

Tak cukup dengan mengunjungi tempat pembuatannya secara langsung, mereka juga didatangkan pembatik asal Yogya untuk memberikan pelatihan selama satu pekan.

Setelah mendapatkan pelatihan tersebut, mereka mulai menggarap pesanan yang diberikan oleh PT RAPP. Saat itu mereka ditantang untuk membuatkan selendang sebanyak 100 lembar. Namun ternyata hasil batik yang dibuatnya masih kurang memuaskan.

"Hasilnya masih jelek, kalau lihat hasilnya sendiri sampai malu," kata Siti sembari tertawa malu.

Beromzet Rp 25 Juta/Bulan, Ini Kisah Ibu-ibu Pelalawan Menjual BatikFoto: Moch Prima Fauzi/detikcom

Mendapatkan tantangan untuk mengerjakan ukuran kain batik yang lebih besar, mereka kembali diberangkatkan ke Pekalongan untuk belajar batik cap dan batik tulis. Siti mengakui, setelah dari Pekalongan kemampuan membatik kelompoknya telah mengalami peningkatan.

Mereka kembali memproduksi selendang yang dipesan untuk tamu-tamu perusahaan dan penjual suvenir. Hanya saja saat itu mereka menyadari bahwa batik yang dijualnya luntur. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali untuk menjalani pelatihan.

Tepatnya pada 2016 lalu, mereka mendatangkan pembatik asal Solo untuk mengadakan pelatihan.

"Dilatih lagi ke Solo awal 2016 gurunya kita datangkan ke sini. Baru lah ngajarkan kita teknik mewarnai itu agak beda. Tekniknya colet, ada lodro ditutupin lilin dan warna yang digunakan beda lagi. Kita gunakan remasol. Jadi pertama itu neptol, kedua neptol, ketiga indigosol yang keempat baru remasol," ujar Siti.

Kini, setelah melalui beragai macam teknik membatik, mereka telah percaya diri memasarkan produknya. Siti mengatakan per bulannya mereka bisa menjual sedikitnya 100 sampai 200 kain batik. Omzet yang mereka dapatkan berkisar Rp 25 juta hingga Rp 30 Juta per bulan.

Siti menjelaskan, per bulannya mereka bisa mengantongi uang sekitar Rp 2 juta. Hitungan upah bergantung pada jenis batik, ukuran serta tingkat kesulitan saat melakukan pewarnaan. Misalnya saja, untuk batik cap mereka diupah Rp 90 ribu, sedangkan untuk batik tulis Rp 150 hingga Rp 175 ribu.

Harga per lembar kainnya, mulai dari Rp 250 ribu hingga RP 350 ribu per lembar dengan panjang 2,25 meter untuk batik cap, sedangkan untuk batik tulis harganya lebih tinggi yakni antara Rp 350 ribu hingga Rp 700 ribu, tergantung pada tingkat kerapatan motifnya.

Beromzet Rp 25 Juta/Bulan, Ini Kisah Ibu-ibu Pelalawan Menjual BatikFoto: Moch Prima Fauzi/detikcom

Batik yang paling laris terjual di tempat mereka adalah motif bono. Itu adalah motif ombak di Sungai Kampar yang akrab disebut bono. Selain motif tersebut, mereka juga memiliki berapa motif lainnya seperti akasia, timun suri, ekaliptus, dan lakum.

Rumah Batik Andalan saat ini beranggotakan 13 orang perempuan yang berlatarbelakang sebagai ibu rumah tangga. Mereka mendapatkan program pemberdayaan masyarakat dari PT Riau Andalan Pulp and Paper di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau, agar membantu perekonomian warga sekitar dan melahirkan kewirausahaan warga sekitar.

Selain Rumah Batik Andalan, PT RAPP juga memiliki binaan Rumah Madu yang membantu petani madu sekitar Pangkalan Kerinci dalam hal pemrosesan hingga penjualan. Omzet per bulan dari Rumah Madu tersebut mencapai Rp 10 juta hingga Rp 20 juta dengan produksi 200 kg sampai 300 kg. (ega/hns)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed