Follow detikFinance
Jumat, 01 Jun 2018 21:08 WIB

Pria Ini Bikin Lilin Motif Batik, Raup Omzet Belasan Juta

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Dok. Cevi Agis Foto: Dok. Cevi Agis
Jakarta - Membuat batik di selembar kain mungkin sudah biasa. Tapi yang namanya kreasi itu tanpa batas, di tangan Cevi Agis, lilin diukir dengan aneka motif.

CEO Batik Candle yang merintis usahanya sejak 2015 ini, sudah mengenal dunia wirausaha sejak di bangku sekolah dasar (SD), dan berlanjut ke jenjang sekolah menengah atas (SMA). Seiring waktu, akhirnya dia berkesempatan belajar ke Korea Selatan dengan bantuan pemerintah daerah.

"Tapi waktu di Seoul, Korea Selatan belum ada bayangan buat bikin Batik Candle. Setelah kembali dari Korea diminta laporan, 'apa yang akan kalian buat, kan sudah dapat ilmu dan pengetahuan'," ujar Cevi kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Produk Batik CandleProduk Batik Candle Foto: Dok. Cevi Agis

Awalnya dia sempat terpikir membuat kreasi berbahan baku cokelat. Hanya saja, daya tahan cokelat tidak begitu lama. Apalagi jika terkena suhu panas mudah meleleh.

"Akhirnya coba browsing, terpikir apa yang bisa tahan lama, terpikir lilin. Tapi apa value added (nilai tambah) lilin selain buat penerangan. Dari situ akhirnya ingin buat lilin khas Indonesia. Waktu itu 2015, yang terkait budaya kan batik, gimana cara memadukan batik dengan lilin. Akhirnya coba riset, tercetuslah batik candle, lilin dengan logo batik," jelasnya.

Di awal merintis usaha, Batik Candle pun baru menghasilkan lilin bermotif batik dengan dua varian saja. Baru di tahun berikutnya, yakni pada 2016, mulai diproduksi lilin dengan varian beragam, bukan hanya batik. Ada juga logo karakter animasi dan logo huruf.

"Setelah 2016, logo makin banyak terutama batik Jawa Barat. Saya base kan di Jawa Barat. Seiring waktu banyak yang minta 'boleh dong saya dibuatkan Batik Candle tapi logo dari kita'. Akhirnya bagus juga dibuat lah logo animasi, karakter. Makin ke sini makin banyak logonya," ujar dia.

Produk Batik CandleProduk Batik Candle Foto: 20Detik

Dia bercerita modal awal menjalankan bisnis ini sebesar Rp 5-7 juta. Modal tersebut berasal dari tabungannya sendiri. Tapi tak disangka dengan modal segitu, kini omzetnya tumbuh hingga 2 kali lipat. Keuntungan yang didapat mencapai 50%.

"Kalau rata rata per bulan, harga kita kan Rp 17.000-20.000 Kalau jual saat pameran sampai Rp 25.000. Per hari bisa jual itu 30 pcs. Dengan harga segitu, omzet bisa Rp 10 Juta-15 juta per bulan," sebutnya.

Besaran harga yang ditawarkan tergantung dari jumlah warna yang tersemat di Batik Candle. Semakin beragam warnanya, harganya semakin mahal.

"Harga dibedakan berdasarkan warna. Kalau dilihat bentuk Batik Candle ada yang 1-2 warna, ada 4-5 warna. Kalau komposisi warna lebih banyak, bisa sampai Rp 20.000 Kalau satu warna misalnya merah saja itu Rp 17.000," terangnya.

Produk Batik CandleProduk Batik Candle Foto: Dok. Cevi Agis

Saat ini dia mempekerjakan tiga karyawan yang bertugas mengukir lilin dengan motif batik. Dalam sehari bisa memproduksi hingga 50 buah. Namun rata-rata yang terjual dalam sehari sekitar 30 saja.

"Saat ini baru 3 orang karyawan tetapnya. Kalau lagi banyak yang request, kita dibantu ibu ibu sekitar rumah. Biasanya bantu packaging saja. Kalau bantu ukir agak susah. Kendalanya agak susah mencari pengukir Batik Candle," ungkapnya.

Dia mengatakan tantangan bisnis yang dia geluti memang mencari pengukir yang mampu mengereasikan lilin hingga memiliki motif batik. Padahal dia kerap mendapat orderan dalam jumlah banyak. Sayangnya dia kekurangan pengukir.

"Kita nggak bisa langsung dalam seminggu misal ada order 500 pcs, agak susah sih dengan karyawan yang 3 orang. Tantangannya pertama mencari perajin," jelasnya.

Produk Batik CandleProduk Batik Candle Foto: Dok. Cevi Agis

Kemudian untuk segmentasi yang dibidik, mulai kalangan anak muda, hingga orang dewasa. Biasanya anak muda menggemari lilin dengan motif karakter animasi. Sementara untuk kalangan dewasa bermotif huruf. Motif huruf ini biasanya untuk keperluan pernikahan.

Dia juga bercerita mengenai duka yang dialaminya dalam menjalankan bisnis Batik Candle. Pada 2015, setiap kali dia menawarkan produknya ke toko-toko selalu dapat penolakan. Alasannya karena produk tersebut dianggap jelek.

"Awal awal, 2015 coba masukin beberapa toko, tapi sepanjang 2015 nggak ada yang mau nerima, waktu itu warnyanya masih kusam. Kalau sekarang lebih cerah sejak 2016. Tapi Alhamdulillah sekarang Batik Candle sudah ada di beberapa toko yang mau jadi partner kita," tuturnya.

[Gambas:Video 20detik]


Dia pun berharap, produknya suatu saat nanti bisa menjadi oleh-oleh khas Indonesia.

"Jadi ke depannya Batik Candle, logonya ini terutama batik nggak cuma dari Jawa Barat. Misalnya ada batik Papua, Kalimantan, Sumatera. Jadi saat orang asing ke Indonesia, jadi ciri khas Indonesia. Atau misalnya contoh Papua, logo batiknya Papua, jadi saat turis domestik ke Papua bisa jadi oleh oleh khas daerah sana," tambahnya.

Nah, untuk membeli produk Batik Candle ini, bisa secara online di www.tokopedia.com/batikcandle, atau akun Instagram dengan nama @batikcandle, dan @agiscevi. (hns/hns)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed