Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 26 Jul 2019 11:04 WIB

Lika-liku Knalpot Purbalingga yang Bersaing dengan Produk Dunia

Arbi Anugrah - detikFinance
Foto: Dok. Pengrajin Foto: Dok. Pengrajin
Purbalingga - Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah merupakan sentra produsen knalpot terbesar di Indonesia. Total sekitar 700-1.000 pengrajin menggantungkan hidupnya dari pembuatan knalpot secara manual tanpa mesin atau custom.

Industri rumahan knalpot di Purbalingga ini menyebar di berbagai wilayah di Kabupaten tersebut. Seperti di Desa Kembaran, Kecamatan Purbalingga hampir rata-rata warganya merupakan salah satu sentra pengrajin knalpot.

Banyaknya pengrajin knalpot tersebut, membuat para produsen juga berupaya bagaimana bisa menjual produknya agar banyak pembeli. Tak jarang produsen tersebut akhirnya membuat knalpot palsu dengan memberikan merk knalpot terkenal untuk mendongkrak penjualan meskipun harganya jelas berbeda.

Seperti kasus yang terjadi pada Selasa (24/7) kemarin saat Polda DIY mendatangi salah satu pengepul knalpot di Desa Gemuruh, Kecamatan Padamara karena menjual knalpot palsu dengan merk Creampie asal Yogyakarta. Karena merasa tidak membuat dan hanya menerima produk dari para produsen, pengepul tersebut akhirnya merelakan 180 knalpot palsu tersebut disita petugas kepolisian.

Untuk mengantisipasi hal serupa yang dapat merusak citra para pengrajin knalpot Purbalingga yang sudah ada sejak tahun 1960an dan menjadi icon kota ini, berbagai cara dilakukan. Salah satunya dengan berupaya mematenkan merek merek para pengrajin knalpot Purbalingga agar dapat mempunyai pangsa pasar tersendiri hingga dituntut berstandar otomotif.

Asosiasi Pengrajin Knalpot Purbalingga (Apik Bangga) yang baru berdiri setahun terakhir terus menggenjot para pelaku industri knalpot agar mempunyai merek sendiri. Saat ini Apik Bangga mengaku baru mempunyai anggota sekitar 250an dari total jumlah pengrajin knalpot di Purbalingga sebanyak 700-1.000 pengrajin.

"Kami ada merek yang sudah di patenkan, hampir semua itu sekitar 100 an merek sudah diproses. Yang sudah jadi hanya 10 merek lokal Purbalingga, karena ada kewajiban (anggota) apik bangga harus punya merek sendiri," kata Penasehat Apik Bangga, Agung Sudrajat kepada wartawan, Kamis (25/7) kemarin.

Dia mengatakan jika sebenarnya banyak knalpot lokal Purbalingga yang telah bermerek dan dikenal oleh masyarakat, seperti Alpino, DRC, Abenk Makler. Namun demikian knalpot merek lokal Purbalingga kurang bersaing, malah lebih bersaing disisi kualitas produk yang sudah mendunia.

"Kalau sebenarnya bersaing itu hanya merek-nya saja. Kalau kualitasnya kami diakui bukan hanya di Indonesia saja, karena kami keluar negeri itu hampir kayak mainan, setiap hari maketin (kirim paket) kesana (keluar negeri), cuma merek saja kami kalah. Tapi kalau kualitas, sisi suara, sisi apa Insya Allah berani," ucapnya.

Knalpot-knalpot dari Purbalingga diekspor ke beberapa negara seperti Australia, Arab, Swedia dan diakuinya seluruh Asia hampir semuanya pernah dikirimkan knalpot dari Purbalingga. Namun lagi-lagi knalpot Purbalingga yang menuju ke negara negara tersebut polos tanpa merek, atas permintaan si pemesan.

"Kalau ke luar negeri polos tanpa merek nanti di branding disana, tapi itu karena pesanannya sana. Kami misalkan bikinnya Creampie, kami sebetulnya jualnya polos, dari pihak pemesan yang memasang merek," jelasnya.

Maka dari itu, untuk menyiasati dan mengenalkan merek knalpot dari Purbalingga ini, pihaknya kadang menyisipkan 1-2 merek-nya dalam setiap pengiriman keluar negeri.


Sekali produksi, kata Agung bisa mencapai 400-600 unit untuk merek knalpot Red Line. Tapi untuk pengiriman ke luar negeri hanya berkisar 10 persen, sisanya merupakan pasar Indonesia, dengan omzet perbulannya Rp 80 juta.

Suprianto, salah satu produsen knalpot dengan merek RAS saat ini mempunyai 60 orang pekerja dan produknya sudah berjalan di Belanda serta tengah promosi di Italia untuk jenis knalpot Vespa. Untuk menuju pasar itupun melalui proses yang panjang, mulai dari menjual knalpot polosan hingga menyisipkan produknya dalam setiap pengiriman hingga akhirnya dikenal.

Diakuinya jika harga knalpot saat ini tengah anjlok akibat persaingan dalam industri tersebut. Bukan hanya di Purbalingga saja, persaingan itu dikatakan dia juga dengan daerah lain seperti Tegal, Surabaya dan Yogyakarta.

"Tapi saya membanggakan produk Purbalingga tidak pakai mesin dan dikerjakan manual, itu ada seninya sendiri. Hebatnya lagi hanya nunjukin gambar saja kami sudah bisa buat costom. Cuma jeleknya kami itu jualnya tanpa merek, yang kasih merek tokonya, ya mulai sekarang sudah mulai kami sisipkan merek kami," ucapnya.

Di Purbalingga, industri knalpot ada sejak tahun 60an dan dari tahun ke tahun terus meningkat, hingga di tahun 80-90 an knalpot Purbalingga berada pada masa keemasannya. Namun kini mereka dituntut agar produknya harus berstandar otomotif untuk mendongkrak kualitasnya.

Seperti halnya AHM Astra yang saat itu berkesempatan mengunjungi sentra industri knalpot Purbalingga untuk melihat potensi tersebut. Upaya yang akan dilakukan yakni dengan pembinaan IKM IKM knalpot agar dapat naik kelas.

"Kualitasnya (knalpot) orang Purbalingga kan sekarang karena pasarnya after market ya, kualitasnya mengikuti customer. Tapi kalau mau mulai masuk ke industri sepeda motor atau mobil, itu kan kualitasnya ada standarnya. Beda customer beda standar," kata Departement Head Planing And Development Yayasan Darma Bakti Astra, Edison Monoarfa kepada wartawan.

Dia menjelaskan jika customer otomotif seperti AHM Astra ini standard kualitasnya lebih ketat dari pada after market. Sehingga harapannya ke depan pihaknya bisa memberikan pelatihan pendampingan, agar pengrajin knalpot dapat terbiasa bekerja sesuai standard perusahaan besar.

"Kalau di kami itu dikenal QUCD, Quality Cost Delivery. Yang kami lihat disini tiga tiganya itu perlu ditingkatkan oleh IKM disini. Quality, karena kita lihat disini peralatannya tradisional semua, mungkin variasi di kualitas juga besar," jelas Edison.

"Lalu cost disini sangat padat karya, padahal ada beberapa pekerjaan yang kalau pakai mesin yang sederhana saja sudah bisa meningkatkan daya saing. Terus kalau pakai mesin, otomatis deliverynya naik kapasitasnya," ucap Edison berharap menemukan potensi di industri knalpot ini.

Meskipun demikian penggunaan mesin tersebut, disebutnya tidak akan mengurangi jumlah pekerja yang ada. Malah dengan penggunaan mesin tersebut akan meningkatkan jumlah para pekerja dan memperbaiki kualitas produk knalpotnya.

Sementara menurut Agus Purhadi Satya, Kabid Perindustrian Dinas Perindustrian Kabupaten Purbalingga mengatakan jika Knalpot Purbalingga sudah merambah ke berbagai kota di Indonesia. Hanya saja belum dapat masuk ke pasar pabrikan yang menuntut standarisasi yang sangat tinggi sekali, hal itu disebabkan knalpot Purbalingga rata rata masih headmaet.

"Makanya industri knalpot ini dipaksa naik kelas. Caranya kami perkenalkan AHM, kami minta dibimbing oleh mereka, (supaya) ada satu pilot projects untuk percontohan sesuai SOP yang dikehendaki oleh Astra, itu agar sejalan. Kalau satu dicoba harapannya kami nanti yang lain mengikuti," ujarnya.



Simak Video "Waktu Terbaik bagi Gibran Rakabuming untuk Jualan: Usai Salat Jumat"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com