Beralih Produksi Masker, Pedagang Pakaian Ini Raup Puluhan Juta

Yudistira Imandiar - detikFinance
Senin, 20 Apr 2020 11:25 WIB
BRI
Foto: Dok. BRI
Jakarta -

Situasi yang sulit tidak lantas membuat Herwadi terpuruk dan meratapi keadaan. Ketika pandemi COVID-19 menghantam bisnis pakaiannya hingga omzet menurun drastis, ia mencari jalan lain untuk tetap bertahan.

Herwadi memiliki toko baju di Pasar Jelojo, Lombok Tengah, dan Pasar Ratang Lombok Timur, NTB. Namun karena pandemi COVID-19, pasar ditutup dan pendapatannya anjlok. Kini, dia bersama delapan karyawannya di Desa Selahe, perbatasan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggeluti produksi masker kain.

"Saya sudah tidak melakoni usaha jual pakaian jadi lagi, semenjak wabah COVID-19, pasar tempat saya berdagang ditutup sementara oleh pemerintah. Saya melihat peluang bisnis baru agar saya dan delapan orang pekerja saya tetap bisa hidup, kami membuat dan menjual masker untuk masyarakat di wilayah Lombok," ungkap Herwadi dalam keterangan tertulis, Senin (20/4/2020).

Herwadi yang merupakan nasabah BRI berhasil meningkatkan kembali denyut bisnisnya. Ia mendapatkan pesanan 10.000 masker dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur yang nantinya akan disalurkan oleh pemerintah kepada masyarakat di wilayah tersebut. Herwadi membeberkan, ia menjual masker kepada pemerintah seharga Rp 3.500 per buah.

"Dalam sehari saya membuat masker kurang lebih 1.000 lembar dengan tipe satu lapisan. Kami jual kepada pemerintah sebesar Rp 3.500 per lembar. Sebelumnya, kalo langsung dijual kepada broker atau tengkulak masker, biasanya saya memberikan harga Rp 5.000 per lembar," ujarnya.

Selama tiga minggu memproduksi masker kain, pria berusia 39 tahun itu telah berhasil meraup puluhan juta rupiah dari penjualan masker kepada broker besar di wilayah Lombok. Herwadi mengatakan, para broker biasa mengambil dalam jumlah yang banyak, sekitar 1.000 buah sekali ambil setiap satu atau dua minggu sekali. Ia mengatakan, produk maskernya tidak hanya dipasarkan di Lombok Timur, namun juga dikirim ke berbagai kota lain, seperti Lombok Barat, dan Lombok Tengah.

Untuk mendukung kelangsungan usaha, Herwadi memperkuat permodalanya dengan Kredit Uaha Rakyat (KUR) dari BRI. Herwadi meminjam KUR BRI sebesar Rp 25 juta untuk membeli bahan baku kain dan karet yang saat ini mulai langka dan mahal. Bantuan KUR ia gunakan untuk menyediakan stok bahan baku dan membayarkan upah mingguan para pekerjanya.

Herwadi yang sudah tiga tahun menjadi nasabah BRI mengaku nyaman dengan pelayanan KUR BRI. Ia mengungkapkan, proses pengajuan kredit di BRI mudah dan uang bisa diterima dengan cepat.

"Proses pengajuan dan pencairan kreditnya mudah dan cepat, ini yang saya suka dari BRI. Hanya butuh waktu 2 sampai 3 hari pengajuan pinjaman langsung disetujui dan ditransfer ke rekening saya," tegas Herwadi.

Sementara itu, Corporate Secretary Bank BRI Amam Sukriyanto mengatakan, BRI memberi kemudahan bagi para nasabahnya, terlebih dalam masa-masa sulit seperti sekarang ini. Proses pengajuan, analisis kredit, dan pencairan yang cepat serta terdigitalisasi, lanjut Amam adalah salah satu kemudahan yang ditawarkan oleh BRI.

Amam menyebutkan, penyaluran kredit mikro Bank BRI secara nasional hingga Desember 2019 lalu sebesar Rp 307,7 triliun.

"Kami berharap semakin banyak nasabah Bank BRI yang ikut terlibat dalam memerangi wabah COVID-19 ini. BRI terus berkomitmen untuk mendukung dan memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM di situasi seperti sekarang ini," kata Amam.



Simak Video "#BRIBersamaUMKM"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ara)