Mau Bisnis Cuma Modal Internet? Cobain Nih Jadi 'Tuyul Online'

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2020 05:36 WIB
wallet with rupiah money inside in front of computer laptop monitor screen, online transaction concept
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Pandemi COVID-19 membuat kondisi menjadi susah. Bagaimana tidak, pandemi membuat aktivitas menjadi terbatas karena penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) hingga yang parah adalah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bagi Anda yang butuh pekerjaan atau penghasilan tambahan tak ada salahnya menjadi dropshipper atau 'tuyul online'. Kenapa tuyul online? Karena aktivitas ini pada dasarnya tidak butuh modal besar, hanya bermodalkan gadget dan kuota internet. Keuntungan bisa diraih dengan 'mencuri' atau memanfaatkan barang atau produk orang lain.

Salah satu dropshipper sukses dan CEO sekaligus founder Digital Class Marketer, Arief Budiman Nasuko secara sederhana menjelaskan, dropship merupakan menjual barang tanpa harus memiliki produk yang dijual.

"Jadi kita menjual produk orang lain istilahnya jual gambar orang, ketika ada orderan kita teruskan supplier, habis itu ya udah barangnya dikirim supplier," katanya dalam acara d'Mentor detikcom, Kamis (17/9/2020).

Dia mengatakan, dropshipper tidak memiliki produk, tidak memiliki risiko kerugian serta tidak mengurus pengemasan barang. Modal seorang dropshipper adalah kuota internet.

"Ya koneksi internet, ketika ada orderan kita menanggulangi," katanya.

Adapun cara kerjanya, seorang dropshipper bisa mengambil produk apa saja, salah satunya dari marketplace. Kemudian, produk itu dijual lagi melalui akun yang dimiliki drosphipper. Selanjutnya, ketika ada pesanan, seorang dropshipper melanjutkan pesanan ke pemilik barang.

"Ada banyak sekali produk-produk yang sebenernya kita bisa ambil fotonya, terus habis itu kita upload ulang kembali. Setelah kita upload kembali kalau ada customer yang order kita tinggal kasih format orderannya ke tempat yang kita ambil barangnya, terus abis itu kita akan kirim," jelasnya.

Dropshipper berbeda dengan reseller. Dia bilang, untuk menjadi reseller biasanya seseorang harus mengeluarkan biaya.

Arief sendiri terjun sebagai dropshipper pada tahun 2015. Ia terjun ke profesi ini karena pada saat itu ia sakit dan baru saja kehilangan pekerjaan. Kondisi yang membuatnya harus di rumah saat itu memaksanya untuk mencari ide bisnis. Alhasil, ketemu lah 'tuyul online' ini.

"Saya coba jualan tapi produknya saya ambil yang ada di marketplace, produk dari marketplace saya jual lagi di marketplace, artinya saya tidak punya produk. Nah itulah yang disebut dropship," jelasnya.

(acd/ara)