Kisah Mahasiswi Rintis Bisnis Produk dari Kain Tenun Tanpa Modal

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 21:19 WIB
Aneka produk dari kain tenun
Foto: Dok. Nikiwaetenun
Jakarta -

Seorang mahasiswi S2 Konsentrasi Pekerjaan Sosial di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bernama Ainul Luthfia Al Firda memulai berjualan produk dari kain tenun tanpa modal di tengah pandemi Corona (COVID-19). Bisnis rintisannya itu baru berjalan 5 bulan, tetapi ia sudah meraup omzet jutaan rupiah, dan yang paling tinggi di bulan Desember 2020 ini.

Perempuan asal Boyolali yang kini tinggal di sebuah kos-kosan di dekat kampusnya itu mulai berjualan aksesoris kain tenun pada Agustus 2020 lalu. Ia memulai berjualan tanpa modal karena menggunakan sistem dropship dari seorang penjual aksesoris kain tenun.

Namun, bulan pertama berjualan sebagai reseller tangan kedua, ia merasa tak mendapat untung yang memuaskan.

"Jadi dulu masih ikut orang. Saya menjual dari orang, tangan kedua, tapi saya merasa seperti nggak dapat untung. Jadi enak di seller-nya. Sementara saya yang sudah mati-matian cari konsumen, tapi ternyata seller saya seperti nggak bekerja," kata Firda kepada detikcom, Rabu (30/12/2020).

Akhirnya, ia mencari perajin tenun langsung melalui Facebook. Hingga akhirnya, ia menemukan perajin yang tepat untuk dijadikan mitra bisnis.

"Meskipun dropship dari perajin langsung, tapi saya bisa beli per pesanan. Jadi nggak harus partai besar. Saya menemukan perajin yang baik sekali, enak untuk diajak bermitra. Perajinnya itu dari Jepara," ujar Firda.

Produk dari kain tenun yang ia jual antara lain selimut dari kain tenun, ikat kepala, masker, tas, celana, tas laptop, bandana, dan sebagainya. Harganya pun terjangkau meski dibuat dari kain tenun dengan kualitas yang sangat baik, yakni di kisaran Rp 14.000-100.000.

"Kalau saya pakai prinsipnya yang penting pendekatan dulu sama konsumen. Kalau konsumen sudah tahu ini bahannya bagus dan murah, nanti kan pasti konsumen akan repeat order. Kalau kita memasang harga terlalu mahal, sementara kualitasnya kurang, kan banyak yang nggak jadi melirik. Intinya saya mengambil untung jangan terlalu banyak, yang penting banyak konsumen," ujarnya.

Khususnya masker dari kain tenun, ia jual dengan harga Rp 14.000 per buah. Ia mengaku, maskernya pernah laris-manis hingga 70 buah dalam satu minggu.

"Ramai penjualan masker, ya sekarang kan lagi pandemi. Alhamdulillah, sekarang banyak re-seller yang datang dari masker. Saya pernah jualan satu minggu bisa 70 buah masker," imbuh dia.

Bagaimana Ainul memasarkan produk racikan dari kain tenun itu? Langsung klik halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2