Pandemi Nggak Ngaruh, Ibu Muda Ini Raup Cuan Bisnis Rujak Bakso

Wisma Putra - detikFinance
Kamis, 31 Des 2020 16:40 WIB
Bisnis kuliner rujak bakso
Foto: Wisma Putra/detikcom: Bisnis kuliner rujak bakso
Bandung -

Pandemi COVID-19 tak menyurutkan Amanda Treeshasanti untuk menjalankan bisnis kuliner. Perempuna berusia 28 tahun itu merintis bisnis rujak bakso kacida (Rubaci) sejak 2016.

Sejak April 2020 lalu permintaan Rubaci miliknya tembus hingga ribuan setiap bulannya.

"Produksi kita satu hari itu bisa mencapai 1.000-2.000 pcs," kata Founder Rubaci Amanda saat dijumpai detikFinance di Akar Creative Space Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Selasa (29/12/2020).

Ibu muda, beranak dua ini menyebut, omzet setiap bulannya bisa tembus di angka Rp 100 juta. "Paling besar omzet kita itu, sekitar 60 sampai 100 juta," ujar Amanda.

Ia tak menyangka omzet penjualan Rubaci di masa pandemi bisa naik pesat dibandingkan beberapa waktu ke belakang.

"Sejak pandemi ini memang di luar dugaan kita, justru kita mengalami peningkatan penjualan sampai, beberapa kali lipat, dari semenjak bulan April sampai Desember ini," ungkapnya.

Di masa pandemi, Amanda memanfaatkan beragam aplikasi online hingga menggaet banyak reseller untuk memasarkan produk rujak bakso miliknya. Ia berencana, di Tahun 2021 mendatang akan membuat outlet untuk penjualan offline.

"Kita sekarang ini lewat online, di tahun depan kita udah mulai buka tempat untuk dine in karena memang banyak permintaan dari pasar," ujarnya.

Selain menjual di dalam negeri, wanita kelahiran Kecamatan Cicendo, Kota Bandung ini bisa menjual produknya ke luar negeri.

"Penjualan kita ini ke seluruh Indonesia sudah melakukan pengiriman, terus ada juga ke beberapa negara ke Asia, seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong dan Taiwan," jelasnya.

Amanda menyebut, di setiap kota di Indonesia ia memiliki lima orang resaller dan satu agen. Setiap rujak bakso Rubaci dijualnya dengan harga beragam dari Rp 20-30 ribu.

Tak hanya itu, dari udahannya ini ia dapat menyerap tenaga kerja yang merupakan tetangganya sendiri. "Pegawai tetap enam oramg, cuman kalau ada over load pemesanan, kita memperdayakan ibu-ibu di sekitar rumah, bisa sampai 10 orang, bahkan lebih," ujarnya.

Lalu apa strategi Amanda, bisa membuat produk UMKM yang dibuatnya laku di masa pandemi COVID-19?

"Kita memiliki strategi, melihat peluang, jadikan ancaman itu sebagai motivasi kita, banyak merangkul bebeberapa usaha-usaha kecil, seperti reseller, kita konsepnya simbiosis mutualisme," papar Amanda.

Pelopor Pertama di Bandung. Langsung klik halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2