Saatnya Jadi Bos

Berani Resign dari Bank, Wanita Ini Panen Cuan dari Mukena Lukis

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 09 Feb 2021 12:10 WIB
Berani Resign dari Bank, Wanita Ini Sukses Bisnis Mukena Lukis
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Setiap orang tua pasti merasa bangga jika anaknya bekerja di sebuah perusahaan yang besar. Termasuk orang tua Mardiyah saat ia bekerja di salah satu bank swasta nasional

Kepada detikcom dia menceritakan, ada yang spesial dengan cara pikir ayahnya. "Bapak selalu menanamkan, sambil bekerja coba dipikirkan bagaimana cara mencari tambahan penghasilan yang nantinya dapat membuka lapangan pekerjaan," kata Diyah akhir pekan lalu seperti ditulis Selasa (9/2/2021).

Dia mengungkapkan sang ayah juga selalu mengajarkan agar ketika bekerja uang lah yang mendatangi dirinya. Saat itu Diyah belum memahami maksud ayahnya.

Dirinya tetap fokus untuk bekerja di salah satu bank swasta besar di Indonesia. Pemikiran ayahnya terus mengusik, dia tetap berpikir dan mencari usaha apa yang bisa dilakukan.

Menurutnya, kedua orang tuanya adalah orang yang visioner selalu memandang jauh ke depan peluang-peluang yang bisa ditangkap. "Saya punya 10 anak, masak nggak bisa berkongsi bikin suatu perusahaan. Kalau bisa diwujudkan ini bisa jadi ladang usaha keluarga besar dan membuka lapangan kerja bagi orang lain. Bisa dicontoh keluarga seperti Grup Aburizal Bakrie," kenang dia.

Dari situlah, akhirnya Diyah bersama sang kakak Marfuah yang juga bekerja di salah satu bank swasta menjalani usaha mukena lukis. Diyah memegang pemasaran, sedangkan sang kakak bertanggung jawab terhadap produksi.

Berani Resign dari Bank, Wanita Ini Sukses Bisnis Mukena LukisFoto: Dok. Istimewa

Mukena dipilih karena jumlah umat muslim di Indonesia terbilang besar. Tentunya kebutuhan alat ibadah seperti mukena akan terus meningkat. Memang peluang ini tak berarti Omah Colet tak menemui tantangan.

"Di luar sana banyak yang produksi mukena. Nah di sinilah poin utamanya harus ada bedanya dengan mukena yang sudah beredar di luaran. Kalau hanya mengikuti yang sudah ada kita tak punya ciri khas dan bisa tenggelam oleh model yang sudah ada," jelas dia.

Karena itu untuk membedakan, Omah Colet melukis kain dengan bahan yang simpel dan aman. Bahan yang digunakan adalah katun rayon atau katun shantung yang cukup tebal, halus, dan adem saat digunakan.

Pewarna yang digunakan pun adalah pewarna tekstil yang aman digunakan. Alat lukis menggunakan bambu yang ujungnya ditumbuk sehingga berserabut layaknya kuas. Proses melukis inilah yang dinamakan colet yang artinya lukis.

Mukena yang dihasilkan oleh Omah Colet ini benar-benar buatan tangan dan dibuat satu per satu, sehingga satu mukena dengan yang lain tak ada yang sama persis. "Dimungkinkan lukisannya ada yang mirip tapi tidak sama persis 100% karena bukan printing, cap, apalagi sablon," jelas dia.

Saat membangun Omah Colet, mereka berdua juga menemui kendala. Pada 2007 mukena lukis yang mereka produksi belum tenar dan masih kalah dengan mukena bordir.

Namun kegigihan mereka menginformasikan dari mulut ke mulut, melalui jaringan pertemanan, arisan, saudara, komunitas pengajian hingga sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram hingga status di WhatsApp ini juga menjadi cara Omah Colet untuk berkembang.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Saksikan juga video 'Karyawan Tapi Pengusaha':

[Gambas:Video 20detik]