Jual Kue Kering, Wanita Ini Kantongi Ratusan Juta Tiap Jelang Lebaran

Whisnu Pradana - detikFinance
Sabtu, 24 Apr 2021 14:00 WIB
Geluti Bisnis Kue Kering, Wanita Ini Cuan Ratusan Juta Tiap Jelang Lebaran
Foto: Whisnu Pradana/detikcom
Cimahi -

Berbisnis kue kering bisa menjadi suatu hal yang mendatangkan keuntungan jika dilakoni serius. Seperti yang dirasakan Yuliawati (44), perempuan asal Kota Cimahi itu mampu meraup cuan dari bisnis pembuatan dan penjualan kue yang digelutinya.

Setiap mendekati Lebaran, pesanan kue kering seperti nastar, kastengel, hingga putri salju membludak. Omzet yang didapatkannya selama Ramadhan dan menjelang Lebaran bisa mencapai Rp 300 juta.

Yuli panggilan akrabnya, merintis usaha kudapan ringan itu sejak 2003, di Jalan Usman Dhomiri, Kota Cimahi. Dia memilih nama Dapur Bunda Yoel's sebagai merek dagangannya. Semuanya dia urus sendiri dari mulai produksi, membungkus, hingga mengantar pesanan.

"Awalnya dari hobi bikin kue, akhirnya coba-coba ditawarkan ke orang-orang terdekat dulu. Dulu itu saya bikin 100 stoples, dan alhamdulillah laku semua," ungkap Yuli kepada detikcom, Sabtu (24/4/2021).

Lantas ia mencoba menyasar pesanan kue kering untuk Lebaran. Mengingat tradisi di Indonesia, seakan wajib menyediakan makanan ringan untuk menyambut tamu yang hendak bersilaturahmi.

Setiap bulan puasa pesanan kue keringnya bisa mencapai 3 ribu stoples. Dirinya mengaku kian kewalahan, hingga kemudian memutuskan untuk mencari pegawai untuk membantunya memenuhi setiap pesanan kue kering yang sudah diterima.

"Padahal waktu itu pemasarannya door to door, dari kantor ke kantor karena media sosial kan belum seperti sekarang. Di tahun kedua saja pesanan itu minimal seribu stoples," ceritanya.

Geluti Bisnis Kue Kering, Wanita Ini Cuan Ratusan Juta Tiap Jelang LebaranFoto: Whisnu Pradana/detikcom

Belasan tahun berlalu bisnis kulinernya kian mantap. Namun tiba-tiba, badai pandemi COVID-19 menghantam. Usaha kue keringnya sempat kelimpungan meskipun tak terlalu signifikan, pesanan turun hingga 30%.

Penurunan pesanan itu pun otomatis berdampak terhadap omzetnya. Biasanya ia mendapat Rp 300 juta dari sekitar 3 ribu stoples, namun Lebaran tahun lalu hanya Rp 200 juta.

Namun setahun berselang pandemi COVID-19 mulai tertangani meskipun belum sepenuhnya hilang. Tak mau kehilangan momen, dia langsung tancap gas menggenjot lagi bisnis kue kering.

Sisa waktu sebelum Lebaran itu akan ia gunakan untuk memproduksi dan mengemas pesanan agar maksimal hingga menargetkan mampu meraih kembali kejayaannya pada tahun sebelum pandemi.

Harga terendah yang ia tawarkan untuk setiap stoples kuenya mulai dari Rp 85 ribu dengan ukuran 500 gram. Sementara untuk parcel mulai dari Rp 200 ribu dengan beberapa jenis kue.

"Untuk lebaran tahun ini pemesanan ditutup sampai 1 Mei. Kita fokus produksi. Soalnya tahun-tahun sebelumnya juga emang yang pesan sebulan sebelum lebaran udah banyak," pungkasnya.

(ara/ara)