Cerita Pebisnis Seprai, dari Reseller hingga Beromzet Hampir Rp 1 M

Nurcholis Maarif - detikFinance
Kamis, 01 Jul 2021 20:07 WIB
Sleep Buddy
Ilustrasi/Foto: Sleep Buddy
Jakarta -

Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Barangkali itu juga yang dirasakan dan didapat Indah Catur Agustin yang memiliki usaha seprei hingga bed cover usai 10 tahun berbisnis. Mengawali usaha sebagai reseller pada tahun 2009, siapa sangka usaha dengan nama brand Sleep Buddy Bedding tersebut kini bisa beromzet hingga lebih dari Rp 900 juta.

"Awal mulanya saya dan suami membuat brand Sleep Buddy, dan kami memulainya dengan menjadi reseller. Jadi beli sprei dan bed cover di salah satu home industry di Surabaya juga, lalu saya repacking dengan brand saya dan saya jual dari bazar to bazar," ujarnya kepada detikcom, Kamis (1/7/2021).

"Sampai akhirnya saya membuka toko di salah satu mal di Surabaya dan pada waktu itu tetap masih menjadi reseller. Lalu karena munculnya platform komunikasi seperti BBM pada masa itu, sehingga lebih banyak orang mulai belanja online, toko saya akhirnya tutup karena jarang ada orang baru untuk datang ke toko dan kami lebih sering menerima order melalui platform BBM lalu kami kirim langsung ke alamat mereka," jelasnya.

Indah bercerita adanya platform BBM pada masa itu membuat orang lebih banyak berbelanja secara online. Bahkan persentase penjualan produk Sleep Buddy Bedding secara online bisa mencapai 90%. Saat itu, Indah juga bercerita hanya memiliki satu karyawan yang merupakan penjahit.

"Dan saya sendiri bagian potong kain, dan suami saya yang keliling beli kainnya. Dengan berjalannya waktu dan ketika kami sudah join di platform Tokopedia, di situlah orderan kami naik drastis sampai akhirnya harus menambah pegawai di bagian produksi dan staf ecommerce specialist hingga hari ini sekitar 50-an pegawai kami," ujarnya.

"Yang best seller dari Sleep Buddy adalah seprei dan bed cover yang berbahan tencel. Bahan tencel adalah bahan yang berasal dari serat bamboo. Kalau untuk invoice yang masuk bisa sampai ribuan dan omzet sudah lebih dari Rp 900 juta," imbuhnya.

Harga seprei yang dijual Sleep Buddy Bedding sendiri mulai dari Rp 200 hingga 250 ribu dan tergantung ukuran, Rp 400 ribu untuk katun jepang, serta berbahan tencel di kisaran Rp 700-900 ribu. Sedangkan bedcover di rentang harga Rp 500 ribu-1,9 juta.

Bagi Indah, peluang dan konsistensi selama 10 tahun merupakan kunci dari bisnis yang dilakoninya. Saat itu, ia tidak terlalu memikirkan bagaimana pasar dan kebutuhan akan seprei hingga bed cover yang dijualnya. Hal terpenting menurutnya ialah produk yang dijualnya memiliki nilai unik tersendiri.

"Yang saya tawarkan adalah nilai unik nya Sleep Buddy, bahan enak halus lembut, tapi harga terjangkau dibandingkan di mal-mal besar. Selain itu, Sleep Buddy bisa custom ukuran sesuai request. Sampai saat ini pun untuk pasar juga saya nggak terlalu memusingkan karena pasarnya Sleep Buddy yang memunculkan itu," urainya.

Untuk pasar, sebenarnya Indah mengakui cukup terbantu dengan Tokopedia dan kampanye-kampanye yang dijalankannya. Sebab kampanye seperti Home Living SALEbrations menurutnya ikut membantu memasarkan produk Sleep Buddy Bedding hingga ke seluruh Indonesia.

"Dari situ juga sleep buddy sangat dimudahkan oleh platform online Tokopedia ini. Sleep Buddy tugasnya hanya konsisten di kualitas produk dan selalu berusaha cepat kirimnya ke customer online," tandasnya.

Sleep Buddy Foto: Sleep Buddy

Peningkatan Omzet Saat Pandemi

Pandemi yang berdampak ke banyak sektor, ternyata tidak dirasakan Sleep Buddy Bedding. Sejak awal pandemi, omzet Sleep Buddy Bedding malah mengalami peningkatan empat kali lipat. Hal itu diakui Indah karena Sleep Buddy Bedding cepat beradaptasi berjualan secara online, termasuk lewat Tokopedia.

"Beragam strategi pun kami lakukan demi meningkatkan penjualan, mulai dari menciptakan produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, kolaborasi dengan influencer hingga aktif mengikuti kampanye seperti Home Living SALEbrations di Tokopedia, sejak awal 2020," ujarnya.

"Sleep Buddy mengikuti hampir semua campaign yang diadakan Tokopedia, dan dari situ transaksi di toko kami juga naik hampir 20x lipat pada Q1 2021 dibanding Q1 2020," imbuhnya

Menurut Indah, berjualan online ini menjadi salah satu solusi bagi para pegiat usaha lokal seperti dirinya untuk dapat mempertahankan bisnis. Kampanye Home Living SALEbrations yang digelar Tokopedia menurutnya menjadi panggung bagi pelaku usaha lokal untuk dapat menjangkau lebih banyak masyarakat demi meningkatkan penjualan, apalagi di tengah pandemi.

"Saya selalu pakai slogannya Tokopedia #MulaiAjaDulu, ini benar banget. Sebenarnya apapun produk kalian yuk manfaatkan platform digital karena dengan kita berjualan online, semua divisi customer service, promosi marketing itu semua sudah di bantu oleh marketplace," ujarnya,

"Tugas kita hanya menyediakan produk jualan ini secara konsisten kualitas, stok dan pengiriman tepat waktu. Apalagi di masa pandemi ini semua akan berubah ke jalur digital semua. Yuk UMKM semuanya mari go digital," pungkasnya.

(akn/hns)