Pedasnya Bisnis Sambal Roa Resep Mertua, Omzetnya Rp 50 Juta/Bulan

Inkana Putri - detikFinance
Rabu, 25 Agu 2021 20:43 WIB
Instagram/@rajaroa
Foto: Instagram/@rajaroa
Jakarta -

Sambal menjadi salah satu pelengkap kudapan khas Indonesia. Bahkan, beberapa masyarakat Indonesia merasa tak lengkap jika menyantap makanan tanpa sambal.

Sambal roa khas Manado merupakan salah satu sambal yang paling digemari banyak orang. Pedasnya cabai yang dipadukan dengan gurihnya ikan roa dan bumbu khas Manado memang mampu membuat lidah bergoyang. Lezatnya sambal roa ini pun membuat Imam Masyhuda, berinisiatif untuk membuka usaha Sambal Raja Roa.

"Tahun 2014 kebetulan mertua saya, ibu istri saya itu orang Manado. Dibuatin sambal roa ini, saya belum pernah coba tuh. Begitu saya coba rasanya enak banget dan beda dari sambel lain. Kemudian saya ngobrol sama istri saya, coba tawarin ke temen-temen dan mereka alhamdulillah respons-nya baik. Akhirnya kita beranikan untuk berjualan Sambal Raja Roa sampai hari ini," ujar Imam kepada detikcom baru-baru ini.

Meski berawal dari coba-coba, kini Sambal Raja Roa telah sukses dikenal masyarakat luas. Bahkan, dari berjualan sambal, Imam mengatakan omzetnya bisa menembus hingga Rp 50 juta per bulan. Tak hanya itu, lezatnya resep sambal roa mertuanya ini juga telah dirasakan oleh pencinta sambal di berbagai wilayah.

"Untuk omzet sewaktu sebelum Corona rata-rata per bulan Rp 50 juta," katanya.

"Kalau (pengiriman) paling jauh kita sudah sampai ke Kamboja dan Jepang. Kalau di Indonesia dari Aceh, Papua, NTT, dan kota lainnya alhamdulillah sudah pernah melakukan pengiriman," imbuhnya.

Sempat Tak Ada Pemasukan

Layaknya pelaku usaha pada umumnya, Imam juga merasakan lika-liku saat berjualan sambal roa. Di awal berjualan, ia mengaku kesulitan untuk mengatur waktu antara berjualan dan kuliah.

"Kemudian tahun 2019, saya kan bekerja Di perusahaan BUMN dan tiap dua tahun akan dimutasi. Akhirnya saya diskusi dan saya memutuskan resign dan fokus ke usaha sambal Raja Roa," katanya.

Selain waktu, modal dan pemasukan juga menjadi tantangan bagi Imam. Terlebih selama tiga bulan berturut-turut usaha sambal roa miliknya sempat tak ada pemasukan. Padahal, Imam telah menggunakan seluruh tabungan untuk menggeluti usahanya.

"Kendalanya waktu itu, biasa lah kan pegawai kita gajian, dan pas resign nggak ada gaji. Dengan uang tabungan yang saya punya, saya mulai seriusin. Kita mulai redesign packaging, label, branding. Saya menggunakan seluruh tabungan saya waktu itu untuk branding Raja Roa. Kira-kira 3 bulan itu kita belum ada pemasukan lah dan setelah di bulan keempat, baru kita mulai merasakan ada pemasukan," katanya.

Adanya pandemi Corona juga menghantam usaha Sambal Raja Roa. Akibat pandemi, dirinya pun terpaksa harus merumahkan beberapa pegawainya karena omzet yang menurun drastis.

"Tantangan lagi ada itu pas Corona dan ini jadi tantang yang paling berat karena omzet kita turun sampai 80% dan kita terpaksa harus merumahkan pegawai," katanya.

Majukan Bisnis Lewat Platform Digital

Meski banyak tantangan, Imam tak lantas putus asa. Pasca resign dirinya memutuskan untuk belajar soal digital marketing. Imam juga terus melakukan riset dan mengembangkan produknya.

"Pertama kali jual online itu hanya dari Instagram, setelah saya resign akhirnya harus belajar apa saja yang bisa digunakan untuk jualan. Saya belajar cara jualan di Instagram, marketplace, Facebook Ads, dan TikTok. Itu semua saya mulai di tahun 2019," katanya.

Di tahun yang sama, Imam juga memutuskan untuk bergabung di Tokopedia. Sejak menjadi Mitra Tokopedia, ia mengaku mendapatkan banyak keuntungan. Bahkan, penjualannya juga meningkat, mengingat 50% penjualan Sambal Raja Roa berasal dari pengguna Tokopedia.

"Kita join 2019 kira-kira akhir tahun. Dari proses pembelajaran digital marketing, saya akhirnya buka di marketplace. Kalau Tokopedia mereka punya tim yang in-charge langsung ke seller-nya. Jadi kalau ada campaign dan informasi lain disampaikan ke kami. Jadi buat saya sangat terbantu," katanya.

"Untuk peningkatan, saat ini kira-kira 50% penjualan kami dari Tokopedia. Jadi 80% dari marketplace dan 50% itu Tokopedia. Dan dari Tokopedia ini menyumbangkan sekitar 70% untuk omzet saya," tambahnya.

Pertahankan Bisnis dengan Inovasi dan Konsistensi Rasa

Selain adaptasi digital, Imam menyebut inovasi dan konsistensi rasa menjadi kunci Sambal Raja Roa miliknya masih bertahan hingga saat ini. Dari satu varian sambal, kini Sambal Raja Roa memiliki inovasi varian lainnya seperti, cakalang, cumi, dan ebi. Bahkan dalam waktu dekat dirinya juga akan menghadirkan varian sambal matah.

"Awalnya saya mulai dengan satu varian sambal roa, dan saat ini sudah punya 4 varian ada cakalang, cumi, dan ebi. Kita akan mengeluarkan varian sambal matah nanti. Kuncinya ada diinovasi bagaimana kita bisa menciptakan sambal baru sehingga masyarakat tidak bosan," katanya.

"Selain itu, kita harus konsisten soal rasa yang kita tawarkan. Kunci kita bisa bertahan sampai saat ini," imbuhnya.

Dengan adaptasi dan inovasi ini, Imam berkeinginan agar pasar Sambal Raja Roa dapat diperluas. Ia juga berharap pandemi segera berakhir sehingga ia dapat mempekerjakan kembali para karyawannya.

"Saya berharap Corona cepat selesai, jadi penjualan normal lagi dan saya bisa hire lagi pegawai yang dirumahkan. Saya juga ingin sambal Raja Roa bisa diterima di masyarakat lokal dan luar negeri, dan masuk ke supermarket," pungkasnya.

(akn/hns)