ADVERTISEMENT

Ternyata Ini Makna Pembeli Adalah Raja dalam Suatu Bisnis

Debora Danisa Kurniasih Perdana Sitanggang - detikFinance
Senin, 19 Sep 2022 12:42 WIB
Ilustrasi makna pembeli adalah raja.
Foto: Christiann Koepke/Unsplash
Jakarta -

Kamu pasti sering mendengar dan familier dengan istilah 'pembeli adalah raja'. Apa sih sebenarnya makna dari istilah tersebut?

Mungkin sekali dengar, yang kita bayangkan adalah bahwa pembeli itu berkuasa seperti raja, sehingga kita sebagai penjual atau pelaku bisnis harus memenuhi apa pun yang diinginkan pembeli. Tapi benarkah sesederhana itu? Dan apakah istilah tersebut masih relevan hingga sekarang?

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai apa makna pembeli adalah raja dalam suatu bisnis. Simak penjelasan berikut ini.

Makna Pembeli Adalah Raja dalam Suatu Bisnis

Mengutip Essy Syam dalam Jurnal Ilmu Budaya Volume 4, pembeli adalah raja adalah slogan yang sangat dikenal di dunia perdagangan. Secara harfiah, maknanya adalah bahwa pembeli harus diperlakukan sebaik mungkin layaknya raja.

Slogan tersebut diyakini ampuh dan manjur untuk melariskan dagangan dan mensukseskan bisnis. Sebab, para pelaku usaha atau pebisnis yakin bahwa dengan pelayanan terbaik bak pelayanan untuk raja, maka konsumen atau pembeli akan kembali berbelanja di tempat penjual yang melayaninya dengan baik tersebut.

Ini berkaitan dengan kepuasan pelanggan. Jika pelanggan merasa puas, lebih besar kemungkinan mereka akan menggunakan layanan atau produk dari pelaku usaha tersebut.

Dalam mengaplikasikan slogan ini, seorang pelaku usaha atau pebisnis akan berusaha semaksimal mungkin memberi pelayanan terbaik kepada pembeli. Kita bisa perhatikan ketika mencoba menggunakan layanan atau membeli produk dari pelaku usaha tertentu. Mereka pasti akan melakukan apa saja untuk membuat pembeli merasa terbantu dan terpenuhi kebutuhannya.

Misalnya dengan mengambilkan barang yang ingin dicek atau dilihat oleh pembeli, meskipun barang tersebut ada di tumpukan atau gudang yang sangat padat. Bisa juga dengan memastikan seluruh pesanan pembeli di restoran cepat saji sudah lengkap dan tidak ada yang kurang.

Namun, pengaplikasian slogan ini berubah seiring dengan perkembangan dunia usaha. Jika dulunya masyarakat lebih suka berbelanja di pasar atau toko di mana penjual yang akan mengambilkan barang, kini lebih banyak toko swalayan (baik besar maupun mini) di mana pembeli mengambil sendiri barang-barang yang mereka perlukan.

Bukan berarti sistem yang diterapkan di toko swalayan tidak mengaplikasikan 'pembeli adalah raja', karena pembeli tetap dilayani di kasir ketika pembayaran dan petugas juga tetap membantu pembeli jika kesulitan mencari sesuatu. Namun, terlihat sekali perbedaan bahwa pembeli lebih banyak 'bekerja sendiri' mencari barang kebutuhannya dengan sistem toko swalayan, sehingga slogan pembeli adalah raja kurang terlihat.

Selain itu, perlu dipahami bahwa slogan pembeli adalah raja tidak serta-merta membuat pembeli bisa berlaku seenaknya. Pembeli atau konsumen juga perlu memiliki sikap menghargai penjual yang sudah memberi pelayanan terbaik.

Di era media sosial, cukup sering kita temukan pembeli atau konsumen yang komplain dengan bahasa yang kurang sopan. Yang disayangkan adalah tidak jarang pembeli tidak mengkomunikasikan dengan benar komplainnya atau permasalahannya sehingga membuat pelaku usaha seolah-olah bersalah, padahal mungkin saja kesalahan ada di pihak pembeli sendiri.

Itulah penjelasan mengenai makna pembeli adalah raja. Apakah makna tersebut masih relevan saat ini? Tentu saja. Pelayanan terbaik untuk pembeli tetap nomor satu dan harus dilakukan oleh pebisnis. Tetapi perlu diingat, bahwa sikap sopan harus dimiliki oleh kedua belah pihak, baik penjual maupun pembeli. Bukan hanya penjual saja. Semoga bermanfaat, detikers.



Simak Video "Garuda Indonesia Ajukan Prosedur Pailit ke Pengadilan AS"
[Gambas:Video 20detik]
(des/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT