Perbedaan Reseller dengan Dropship Beserta Keuntungan dan Kerugiannya

ADVERTISEMENT

Perbedaan Reseller dengan Dropship Beserta Keuntungan dan Kerugiannya

Adelaide Wreta - detikFinance
Selasa, 04 Okt 2022 13:40 WIB
Ilustrasi dropship.
Foto: Mediamodifier/Unsplash
Jakarta -

Meski terkesan mirip, reseller dan dropship merupakan dua sistem berjualan yang yang berbeda. Masing-masing sistem memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing yang dapat dijadikan pertimbangan untuk memilih sistem mana yang lebih menguntungkan bagi Anda. Penasaran apa saja perbedaannya? Simak artikel berikut ini!

Apa itu Reseller dan Dropship?

Mengutip Fathul Husnan dan Java Creativity dalam Buku Sakti Membuat Toko Online dengan Blogger, reseller dan dropship memiliki suatu kesamaan, yakni menjual suatu barang tanpa memiliki produk atau barang sendiri.

Reseller terdiri dari dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu re yang berarti ulang dan seller yang berarti penjual. Bila digabungkan, reseller memiliki arti orang yang menjual ulang suatu barang. Reseller berarti membeli barang ke supplier atau pemilik barang untuk kemudian dijual kembali.

Sementara itu, dropship adalah sistem berjualan yang meminta supplier untuk mengirimkan produknya ke pelanggan dropshipper dengan mengatasnamakan sang dropshipper sebagai pengirimnya.

Perbedaan Reseller dan Dropship

Ada setidaknya empat hal yang membedakan reseller dan dropship menurut cashlez.com, yaitu:

1. Cara Kerjanya

Sistem dropship pada dasarnya adalah bisnis yang mendukung pemasaran secara online sehingga pelaku bisnis di bidang ini tidak perlu memikirkan tempat untuk menyimpan stok barang jualannya. Jika ada pesanan, dropshipper akan menghubungi supplier dan memintanya untuk mengirimkan barang pesanan ke alamat pelanggan. Sementara itu, reseller menjalankan bisnisnya dengan menjual kembali produk yang dibelinya dari orang lain, baik barang maupun jasa dari distributor.

2. Inventaris

Ketika menjadi dropshipper, Anda tidak perlu membeli barang dari supplier karena Anda hanya menjadi pihak ketiga antara pembeli dan supplier. Oleh karena itu, hal terpenting bagi seorang dropshipper adalah mencari pelanggan, membantu proses pemesanan, dan memastikan proses pengiriman dilakukan. Berbeda dengan reseller yang membeli barang dari supplier dan mengatur stok barang dalam penjualan.

3. Modal

Karena tidak perlu membeli barang untuk dijual, seorang dropshipper tidak perlu menyiapkan modal. Paling tidak, yang dibutuhkan adalah koneksi internet yang stabil sehingga bisa berkomunikasi dengan lancar. Sementara itu, reseller perlu menyiapkan modal untuk membeli barang yang nantinya akan ia tawarkan kepada pembeli.

4. Strategi Pemasaran

Untuk menawarkan produk kepada calon pembeli, seorang reseller bisa melakukannya secara langsung karena ia mengetahui berapa banyak stok yang dimiliki. Namun, seorang dropshipper tidak bisa melakukan hal yang sama karena ia tidak mengetahui berapa banyak stok yang dimiliki supplier. Hal inilah yang menyebabkan dropshipper lebih disarankan untuk mempromosikan produknya melalui media sosial dan pengirim pesan instan.

Kelebihan dan Kekurangan dari Reseller maupun Dropship

Baik reseller maupun dropship memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihan dan kekurangan ini dapat dipertimbangkan untuk memilih menjadi reseller atau dropshipper, yaitu:

Kelebihan dan Kekurangan Reseller

1. Kelebihan

  • Mengetahui stok barang yang ada karena stok tersebut disimpan secara pribadi.
  • Dapat menjelaskan kondisi barang secara detail.
  • Dapat menerima pelanggan secara online ataupun offline.
  • Memungkinkan margin laba yang relatif lebih besar karena pihak distributor seringkali memberikan diskon khusus reseller atau biasa disebut harga grosir.
  • Adanya kemungkinan untuk menekan harga jual kembali yang berpotensi menarik lebih banyak pelanggan karena harga grosir yang diberikan produsen.

2. Kekurangan

  • Membutuhkan modal yang banyak, umumnya dapat mencapai jutaan.
  • Perlu melakukan pengemasan dan pengiriman barang.
  • Memerlukan tempat penyimpanan barang yang cukup.

Kelebihan dan Kekurangan Dropship

1. Kelebihan

  • Membutuhkan modal yang sedikit atau bahkan tidak memerlukan modal.
  • Tidak perlu melakukan pengemasan dan pengiriman karena semua proses tersebut dilakukan oleh supplier.
  • Dapat dijalankan di manapun dan kapanpun karena komunikasi dengan pelanggan dapat dilakukan secara online.
  • Tidak memerlukan tempat penyimpanan barang karena produk dikirimkan langsung oleh supplier ke pelanggan.
  • Meminimalisasi risiko kerugian akibat stok barang yang belum laku dijual ataupun adanya konsumen yang melakukan pembatalan transaksi.
  • Mudah untuk dijadikan pekerjaan sampingan.

2. Kekurangan

  • Margin laba yang diperoleh tidak terlalu besar karena dropshipper umumnya hanya menerima potongan atau diskon yang kecil dari supplier, tidak terlalu banyak.
  • Dropshipper tidak dapat mengetahui kondisi barang yang akan dijual secara persis karena barang hanya ada di supplier.
  • Tidak mengetahui stok barang. Dropshipper dapat menanyakannya ke supplier, tapi respons yang lambat tidak dapat terhindarkan dan hal ini menyebabkan kaburnya pelanggan.
  • Dropshipper akan kesulitan menghadapi komplain pelanggan karena tidak mengetahui kondisi barang yang dikirim.
  • Risiko kalah bersaing dengan reseller karena kemungkinan untuk menekan harga jual lebih tipis daripada reseller sehingga produknya cenderung lebih mahal.

Tips Memulai Bisnis Sebagai Reseller atau Dropship

Setelah mengetahui perbedaan reseller dan dropshipper, penting bagi Anda untuk mengetahui sejumlah tips dalam memulai kedua bisnis ini agar tidak salah langkah. Berikut tips yang bisa diterapkan (fleaxdia.com):

  1. Tentukan jenis barang yang ingin dijual dan lakukan riset pasar terlebih dahulu.
  2. Cari supplier yang dapat memberikan harga dan kualitas barang terbaik. Hubungan yang baik dengan supplier sangat penting untuk kelangsungan bisnis Anda.
  3. Tentukanlah merek toko yang sesuai dengan produk yang dijual. Merek produk dapat mengikuti supplier atau bisa ditentukan sendiri.
  4. Buatlah website atau situs untuk penjualan secara online. Anda juga bisa membuka toko di e-commerce yang relevan dengan target pasar.
  5. Manfaatkan media sosial untuk promosi produk. Anda bisa mengembangkannya secara organik atau memanfaatkan fitur iklan sekaligus.
  6. Analisis bisnis kompetitor untuk mengetahui strategi pemasaran yang sedang diterapkan agar produk dapat bersaing di pasaran.
  7. Buat promo menarik secara berkala untuk menarik lebih banyak pelanggan.

Kesimpulan

Reseller dan dropship merupakan dua jenis sistem berjualan yang serupa, tapi tak sama. Reseller berarti menjual barang kembali dengan kepemilikan stok, sedangkan dropship berarti meminta supplier untuk mengirimkan produk secara langsung ke pelanggan, tetapi mengatasnamakan sang dropshipper.

Keuntungan menjadi reseller adalah mengetahui stok barang, menjelaskan kondisi barang secara detail, menerima pelanggan secara online dan offline, memungkinkan laba yang lebih besar, dan memungkinkan penekanan harga jual kembali yang lebih besar. Namun, untuk menjadi reseller membutuhkan modal yang lebih banyak, melakukan pengemasan dan pengiriman barang, dan memerlukan tempat penyimpanan barang. Sementara itu, dropshipper merupakan kebalikan total dari reseller.

Untuk menjadi reseller ataupun dropshipper, penting bagi Anda untuk mencari supplier terbaik. Anda juga perlu menganalisis kompetitor agar dapat bersaing secara ketat dan meningkatkan promosi di media sosial.

Itulah penjelasan mengenai reseller dan dropship, mulai dari pengertian, kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem penjualan, hingga tipsnya. Semoga artikel ini dapat membantu Anda yang ingin mencoba menjadi reseller ataupun dropship.



Simak Video "Meraup Jutaan Rupiah dari Budidaya Anggrek"
[Gambas:Video 20detik]
(des/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT