Mengenal Know Your Customer (KYC): Tujuan, Manfaat, dan Contoh

ADVERTISEMENT

Mengenal Know Your Customer (KYC): Tujuan, Manfaat, dan Contoh

Debora Danisa Kurniasih Perdana Sitanggang - detikFinance
Rabu, 19 Okt 2022 11:16 WIB
Ilustrasi customer.
Foto: Blake Wisz/Unsplash
Jakarta -

Bagi Anda yang bergerak di bidang keuangan atau pemberian pinjaman, pasti sudah tidak asing dengan istilah KYC. Istilah ini merupakan singkatan dari Know Your Customer, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai 'mengetahui pelanggan Anda'. Istilah ini secara khusus digunakan dalam sektor keuangan dan berkaitan dengan keamanan transaksi.

Dalam artikel ini, kita akan mempelajari secara lengkap mengenai KYC, mulai dari pengertian, tujuan, manfaat, hingga dasar hukum dan penerapannya. Simak penjelasan berikut ini.

Pengertian KYC (Know Your Customer)

Dilansir lib.ui.ac.id, KYC atau Know Your Customer adalah prinsip yang diterapkan bank untuk mengetahui identitas nasabah, memantau kegiatan transaksi nasabah termasuk pelaporan yang mencurigakan.

Mengutip Dewi Anggraeni Pujianti dalam Studi Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah dalam Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang seperti dilansir lib.ui.ac.id, prinsip KYC dimaksudkan untuk melindungi bank dari berbagai risiko dalam berhubungan degan nasabah atau counter-party. Prinsip ini juga dikenal dengan istilah Prinsip Mengenal Nasabah (PMN) dan Customer Due Diligence (CDD).

Tujuan KYC

Dalam buku Dosa-Dosa Unit Link oleh Andreas Freddy Pieloor, KYC diterapkan dengan tujuan untuk menciptakan industri keuangan yang sehat, berstandar internasional, dan terlindungi dari kemungkinan penyalahgunaan kejahatan keuangan. Penyalahgunaan atau kejahatan itu meliputi pencucian uang, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Lebih lengkap, mengutip situs corporatefinanceinsitute.com, KYC juga bertujuan untuk mengantisipasi pendanaan terhadap aktivitas yang mengarah pada terorisme. Prinsip KYC pun harus diterapkan untuk memastikan siapa nasabah yang dilayani oleh bank maupun perusahaan yang terkait dengan keuangan seperti asuransi.

Manfaat KYC

Penerapan prinsip KYC memiliki sederet manfaat sebagai berikut, seperti dilansir situs corporatefinanceinstitute.com.

  • Membantu pemberi pinjaman melakukan penilaian risiko melalui identifikasi riwayat keuangan dan aset yang dimiliki.
  • Mencegah pencucian uang dan aktivitas lainnya yang menimbulkan kerugian secara sosial.
  • Membatasi penipuan terutama yang terjadi karena penyembunyian identitas.
  • Menghasilkan kerangka keuangan yang lebih dapat dipercaya dan memperkecil risiko, sehingga mendukung stabilitas dan investasi ke negara.
  • Memperkecil ketidakpastian yang dihadapi lembaga pemberi pinjaman sehingga memungkinkan pemberian pinjaman yang lebih besar kepada pelanggan dan memberikan keuntungan lebih bagi lembaga tersebut.

Dasar Hukum KYC

KYC, atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah PMN, diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 30/PMK.0101/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah bagi Lembaga Keuangan Non-Bank.

Mengutip situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK), peraturan ini dibuat untuk mencegah pemanfaatan Perusahaan Asuransi, Dana Pensiun, dan Lembaga Pembiayaan menjadi sarana pencucian uang dan pendanaan teroris.

Contoh Penerapan KYC

Dilansir situs thalesgroup.com, KYC diterapkan melalui serangkaian aktivitas, yakni meliputi:

  • Verifikasi kartu identitas (ID card).
  • Verifikasi wajah.
  • Verifikasi dokumen seperti tagihan utilitas untuk memastikan alamat tempat tinggal/tempat usaha.
  • Verifikasi biometrik.

Rangkaian verifikasi tersebut diperlukan untuk memastikan identitas nasabah benar-benar asli. Sehingga ketika nantinya terjadi suatu masalah atau terdapat transaksi mencurigakan yang terdeteksi, pihak pemberi pinjaman atau bank sudah memiliki data yang dapat diproses untuk langkah selanjutnya. Misalnya dengan memberikan informasi tersebut kepada penegak hukum.

Pihak bank atau pemberi pinjaman sangat mungkin untuk menolak pembukaan akun nasabah atau transaksi apabila nasabah yang bersangkutan tidak memenuhi proses verifikasi. Bank sendiri wajib untuk melaksanakan prinsip ini sebagai bentuk pembatasan terhadap praktik penipuan dan pencucian uang. Jika tidak dilaksanakan, maka bank juga akan mendapat sanksi.

Demikian penjelasan mengenai KYC atau Know Your Customer. Jadi, jika pihak bank terkesan 'rempong' menanyakan detail kepada Anda sebagai nasabah atau calon nasabah, bukan berarti mereka kepo dan melanggar privasi Anda, tetapi itu sudah kewajiban bank. Semoga bermanfaat, detikers!



Simak Video "Hutama Karya Kembangkan Kompos dari Maggot di JTTS"
[Gambas:Video 20detik]
(des/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT