5 Kisah Sukses UMKM Binaan Sampoerna, dari Hobi Jadi Cuan Belasan Juta

ADVERTISEMENT

5 Kisah Sukses UMKM Binaan Sampoerna, dari Hobi Jadi Cuan Belasan Juta

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Selasa, 27 Des 2022 11:45 WIB
UMKM binaan HM Sampoerna
5 Kisah Sukses UMKM Binaan Sampoerna, dari Hobi Jadi Cuan Belasan Juta/Foto: dok. CNBC Indonesia
Jakarta -

PT HM Sampoerna Tbk membina para pelaku UMKM melalui program Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC). UMKM diberi pelatihan dan pendampingan demi keberlanjutan usaha.

Kepala Urusan Eksternal Sampoerna, Ishak Danuningrat menjelaskan SETC merupakan program pembinaan UMKM yang diresmikan pada 2007. Fasilitas pendukung untuk pelatihan kewirausahaan program SETC berdiri di atas lahan seluas 27 hektare di Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

"Hingga saat ini, SETC telah memberi keterampilan kewirausahaan kepada lebih dari 65.000 peserta dari seluruh Indonesia," ujar Ishak dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (27/12/2022).

Dalam kegiatan di pusat pelatihan kewirausahaan SETC di Pasuruan pada Rabu (14/12), lima perwakilan UMKM binaan SETC sempat membeberkan kisahnya. Mereka memulai usaha dari hobi yang kemudian berlanjut menjadi sumber cuan berkat dukungan SETC.

Pertama, ada pegiat eco printing untuk produk fesyen sekaligus pendiri Letes Craft, Ani Nurdiana. Dia mengatakan sebelumnya hanya memiliki hobi mengumpulkan dedaunan unik untuk dicetak menjadi kain bermotif alami lewat teknik eco-print.

"Saya bergabung dengan SETC sudah lama, sejak 2010. Ketika itu, kemampuan eco-print saya masih sekadar hobi. Justru teman-teman SETC yang menyarankan saya supaya jadi serius. Kepercayaan diri pun muncul setelah dapat pelatihan bisnis, manajemen, dan pemasaran dari sini," jelasnya.

Ani resmi membawa hobi mencetaknya itu menjadi brand Letes Craft yang menjual dompet, tas, sampai sepatu bermotif dedaunan unik. Produknya ternyata bisa terjual sampai kisaran harga Rp 2 jutaan. Padahal, ketika memulai bisnis, Ani hanya mengeluarkan modal awal Rp 300.000 saja.

Saat ini, aset Letes Craft saat ini sudah mencapai Rp 200 jutaan dengan omzet sekitar Rp 5 jutaan per bulan. Bahkan, kalau sedang ramai, omzet bisa sampai Rp 80 juta per bulan.

"Berkat ilmu dari SETC, saya jadi bisa bikin produk yang terjual sampai Hongkong dan bisa memberdayakan tetangga sebagai tenaga kerja," tambahnya.

Senada dengan Ani, pegiat fesyen lukis dengan brand N2N asal Malang, Lastri Suhartini juga mendapatkan kepercayaan diri untuk membuka usaha sampingan setelah bergabung dengan SETC. Usaha Lastri berupa jasa dan penyedia produk pakaian motif lukisan tangan.

"Sebenarnya basis keilmuan saya itu arsitektur, jadi memang hobi menggambar. Tadinya tidak terpikirkan untuk membuka usaha. Ternyata, sekarang aktivitas yang saya sukai ini bisa mendatangkan omzet Rp 8-10 juta per bulan," ungkapnya.

Lalu ada juga Eka Wahyu Setyowati, pegiat patchwork alias kerajinan perca dengan brand Decak Handmade yang mengaku melihat peran penting SETC dalam bisnisnya. Mulai dari cara menghitung harga pokok penjualan (HPP) hingga pemasaran digital.

Selanjutnya, ada UMKM binaan SETC bernama Lilien Kecil besutan Trisakti Chandra Dewi yang mendapatkan berkah jejaring bisnis dari SETC. Ia kemudian memanfaatkannya untuk memberdayakan para ibu-ibu PKK di wilayahnya.

Ada juga pelaku UMKM binaan SETC bernama Neneng Apriani yang membuat produk olahan bawang hitam menjadi cokelat, kue kering, sampai selai. Awalnya Neneng mengonsumsi sendiri bawang hitam. Kemudian, ia mulai memproduksinya untuk dipasarkan hingga kini meraih pasar mancanegara.

"Dari awalnya hanya konsumsi pribadi, saat ini bawang hitam olahan saya lewat brand N'Up Product bisa mendatangkan omzet bulanan di kisaran Rp 15 juta. Ada konsumen saya asal Australia dan Turki yang juga rutin membeli," imbuh Neneng.

(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT