Eka Budi Utami (39) memegang prinsip sederhana dalam membangun usaha modest fashion muslim Naeka, semuanya diniatkan untuk ibadah. Cara pandang itu perlahan mengantarkan usahanya berkembang hingga masuk ke pasar global.
Perjalanan usaha ini pun tak lepas dari dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Lewat Rumah BUMN BRI Jakarta, Eka rutin mendapat berbagai pelatihan hingga akses pameran yang memperluas pasarnya.
Ditemui detikcom, di Jalan Poltangan Raya Ruko Ruko No.50 A, Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026). Eka bercerita bagaimana ia memulai usaha ini ketika pandemi COVID-19 masih melanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berawal dari Kegagalan
Eka mengatakan awalnya Naeka didirikan bukan untuk brand modest fashion muslim. Setelah berhenti bekerja usai melahirkan, ia sempat merintis usaha di bidang pakaian bayi dan anak. Namun, usaha itu mandek.
Padahal, ia sudah mengeluarkan modal cukup banyak untuk mengurus legalitas usaha saat itu, termasuk sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk merek dagangnya.
"Karena waktu itu aku mikir, aku abis lahiran, terus kayak butuh baju bayi buat kulit sensitif gitu. Tapi ternyata, aku kayak nggak berjodoh, kok nggak cocok nih, nggak jalan-jalan gitu," ujarnya kepada detikcom.
Di tengah proses merintis usaha itu, Eka diingatkan adik iparnya, Rina, yang juga rekan bisnisnya. Ia khawatir jika usaha tidak segera berjalan, semangat yang sudah dibangun perlahan-lahan justru akan padam.
"Akhirnya kita mikir, apa ya? Yaudah deh, karena kita pake jilbab sehari-harinya, udah deh kita jualan jilbab dulu," terang Eka.
Keduanya kemudian sepakat menggunakan nama Naeka untuk menjual produk muslimah secara daring. Nama tersebut merupakan gabungan dari Na yang diambil dari nama Rina dan Eka.
Dari titik itulah, mereka mulai merambah pasar produk muslimah melalui sistem maklon jilbab. Tak disangka, respons pasar sangat positif, produk yang mereka rilis di tengah pandemi COVID-19 langsung habis terjual.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
Pandemi Membawa Berkah
Pada momentum Ramadan 2020, Naeka meluncurkan mukena pertama menggunakan kain bermotif yang diambil toko kain. Di sana, Eka disarankan pemilik toko untuk fokus mencari 'DNA' atau keunikan produk, hingga akhirnya ia memilih bahan katun silk.
"Dia bilang, 'kamu cari DNA-nya dulu nih. Karena yang jualan kayak produk kamu tuh banyak. Nanti kalau udah DNA-nya dapet, kamu harus fokus di situ'," kenang Eka menirukan ucapan sang pemilik toko.
Meski tanpa toko fisik, mukena Naeka langsung laris manis saat Lebaran pertama pandemi COVID-19. Hanya bermodal awal Rp 2 juta sejak beralih dari produk jilbab pada November sebelumnya, ia kebanjiran pesanan hingga meraup omzet Rp45 juta pada April 2020.
Eka mengaku sangat terkejut dengan pencapaian tersebut karena saat itu Naeka hanya dipasarkan secara daring tanpa dukungan promosi besar ataupun nama merek yang dikenal luas.
"Dan Naeka, siapa sih yang kenal? Itu cuma perkara aku punya satu admin pada saat itu. Jadi cuma upload ke (lalu dapat) Rp45 juta. Aku kayak, 'eh uang dari mana nih?," ujarnya heran sekaligus bersyukur melihat antusiasme pembeli.
Bagi Eka, pandemi justru membawa berkah bagi perkembangan usahanya. Pada tahun keduanya, penjualan Naeka terus meningkat hingga bisnisnya berkembang jauh lebih besar dibanding saat awal berdiri.
Bangun Konveksi Sendiri
Naeka kemudian memperkuat identitas produknya yang berfokus pada mukena motif cetak berbahan silk dengan ciri khas corak bunga berwarna pastel. Mukenanya dijual dengan rentang harga mulai dari Rp 255 ribu hingga Rp 685 ribu yang menyasar segmen premium.
Untuk menjaga kualitas produknya, ia membangun konveksi sendiri pada tahun 2021 dengan nama Taka Konveksi. Ia juga melibatkan tenaga kerja dari Garut, Cilacap, dan Jawa Tengah.
Eka menyadari lini produksi merupakan kunci utama untuk mempermudah operasional dan menjaga keberlanjutan bisnisnya. Hal ini pula yang membuat kualitasnya bisa bersaing meski banyak kompetitor yang menawarkan harga lebih murah.
"Kenapa kita punya konveksi? Karena kita pikir untuk memudahkan dari hulu ke hilirnya kita harus punya sendiri," jelas Eka.
Kini, Naeka tengah mengurus berbagai sertifikasi dan legalitas usaha, termasuk TKDN dan izin industri. Langkah ini disiapkan bisa memperluas jangkauan pasar, mulai dari retail modern hingga menembus proyek pengadaan pemerintah.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
Gabung Rumah BUMN BRI
Untuk meningkat skala usahanya, Naeka memutuskan bergabung dengan program pemberdayaan Rumah BUMN BRI sekitar awal 2022. Informasi mengenai pendaftaran awalnya diketahui Eka melalui unggahan di media sosial Instagram BRI.
Setelah mengisi data diri dan melewati proses kurasi, Naeka dinyatakan lolos untuk mengikuti rangkaian pelatihan intensif yang diadakan setiap hari dengan materi yang beragam.
Eka menjelaskan bahwa sistem pelatihan di Rumah BUMN BRI tersebut sangat membantu perkembangan usahanya. Sebab, ia bisa mendelegasikan timnya sesuai dengan topik harian pelatihan yang dibahas.
"Misalkan hari ini bahas keuangan, yang datang tim finance aku, kayak bikin neraca tuh gimana. Jadi kita bagi-bagi nih, misalnya hari ini ngomongin tentang branding, aku yang berangkat," ujarnya.
Berbeda dengan peserta lain yang umumnya baru merintis, Naeka masuk ke ekosistem ini dengan kesiapan produk dan struktur tim yang lebih matang untuk melakukan ekspansi bisnis.
"Kalau yang lain kan masih kayak kemasannya masih (sederhana), pada era itu aku udah pakai box. Sudah pakai packaging, udah mikirin ke situ," jelas Eka.
Dilibatkan dalam Pameran BRI
Tak lama setelah bergabung dan mengikuti kelas demi kelas pelatihan usaha di Rumah BUMN BRI di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat. Naeka langsung dilibatkan dalam pameran bersama BRI di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.
Keikutsertaannya di pameran tersebut memberikan manfaat besar terhadap merek dagangnya karena semakin banyak masyarakat yang mengenal produk Naeka. Hal ini juga membuat penjualannya meningkat.
"Tentu kalau misalkan ada bazar-bazar yang mengenalkan market baru, itu bikin influence ke pendapatan kita, ke revenue. Jadi bantu secara nggak langsung," tuturnya.
Eka mengaku pameran dari undangan BRI tersebut memberikan pelajaran besar baginya untuk melihat pasar produknya secara lebih luas. Ia jadi bisa mengetahui siapa target pasar produknya secara spesifik.
"Kenapa? Karena kita ketemu kayak market baru. (Pameran) di mal sama kementerian itu beda banget. Beda banget. Jadi, kalau diajak pameran gitu, aku pasti akan datang. Karena aku pengen ketemu customer langsung," jelasnya.
Menariknya, saat ikut pameran di Terminal Bandara Seokarno-Hatta pada 2023 lalu, Eka mengaku terkesan bahwa produknya dibeli tidak hanya dari warga lokal tapi juga dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
Merambah Pasar Global
Di sisi lain, Naeka juga pernah mengikuti business matching yang mempertemukan UMKM dengan buyer internasional bersama BRI. Naeka berhasil memikat calon buyer dari Senegal yang tertarik untuk memasarkan produk mereka di benua Afrika.
Proses kurasinya pun terbilang unik seluruh produk diletakkan di atas meja, lalu para buyer berkeliling untuk memilih barang yang mereka sukai sebelum akhirnya dipertemukan langsung dengan owner.
"Jadi perwakilan kedutaan, buyer, brand owner, dan satu translator duduk bersama. Kebetulan latar belakang pendidikan S1 saya adalah Sastra Prancis, jadi saat buyer tertarik, obrolan kami langsung menyambung," ungkap Eka.
Buyer tersebut ternyata adalah Madam Duma, seorang selebgram berpengaruh di Senegal dengan lebih dari 50 ribu pengikut. Ia sangat menyukai desain Naeka, bahkan berniat merekomendasikannya ke jaringannya di Prancis.
Meski demikian, menembus pasar Senegal memberikan tantangan tersendiri bagi Naeka dalam hal adaptasi produk. Perbedaan iklim di Senegal membuat Naeka harus melakukan penyesuaian material kain demi kenyamanan penggunanya di sana.
"Di sana kan udaranya sangat panas. Kalau kami berikan bahan silk seperti di Indonesia, kainnya akan terasa sangat lengket di kulit. Mereka bilang suka dengan desain kami, tapi meminta materialnya diganti menggunakan katun rayon. Akhirnya kami membuat produk custom khusus untuk pasar Afrika," jelasnya.
Kanada, Singapura, Malaysia
Semenjak itu, pembelinya mulai datang dari berbagai negara. Eka menceritakan pengalaman saat seorang konsumen muslim keturunan Arab yang menetap di Kanada nekat membeli lima set mukena Naeka untuk istri dan anak-anaknya. Transaksi ini bermula dari DM Instagram.
"Dia DM, beli lima pcs, totalnya sekitar Rp 2,5 juta. Tapi fun fact-nya, ongkos kirim ke Kanada itu mencapai Rp 2 juta sendiri, hampir sama mahal dengan harga produknya. Meskipun begitu, dia tetap memutuskan untuk membeli," kenang Eka
Selain pengiriman satuan ke Kanada, Naeka juga rutin melayani pembeli si kawasan Asia Tenggara. Salah satunya konsumen Singapura yang konsisten membeli dalam jumlah banyak.
"Singapura tuh ada satu orang, aku nggak ngerti. Tapi kayaknya dia jual lagi. Karena dia kalau beli, nggak mungkin dikit. Kayak 15 pcs sampai 20 pcs," ungkapnya,
Selain itu, pasar Malaysia pun sempat melirik Naeka saat timnya melakukan proses syuting konten di sebuah masjid di Penang. Kala itu, warga lokal berbondong-bondong mendekat karena tertarik dengan visual mukena yang mereka kenakan.
Namun, karena produk Naeka tidak tersedia di platform e-commerce Malaysia. Hal itu membuat orderan-nya harus dilakukan secara manual, sehingga pesanan dari negeri jiran tidak seintensif dari Singapura.
Musim Haji
Lebih lanjut, pada musim haji saat ini, usahanya juga semakin berkembang. Ia turut mendapat pesanan untuk memproduksi berbagai kebutuhan agen travel haji dan umrah.
"Jadi kalau musim haji, jujur kita lebih banyak dapat orderan kayak WHI (Wisata Halal Indonesia), jadi kayak travel-travel umrah haji. Kita ngerjain dari belakang," ungkap Eka.
Salah satu mitra setianya adalah agen travel haji dan umrah berbasis di Ragunan. Volume pemesanan dari setiap agen travel ini tergolong besar dan variatif.
"Dia udah 2 tahun sama kita. Macem-macem, (pesanannya) ada yang 60, 100, 80, ada yang 70. Kalau sajadah, itu WHI sampai 1.100, khimar itu 500," urai Eka.
Menariknya, lewat sistem maklon ini Naeka juga memproduksi barang di luar katalog retail mereka.
"Tapi memang Naeka-nya enggak jual khimar. Tapi kita produksiin, jadi buat mereka. Jadi custom," jelasnya.
Diniatkan untuk Ibadah
Di balik kesuksesannya ini, Naeka memegang prinsip sederhana dalam berusaha, semuanya diniatkan untuk ibadah. Baginya, bisnis ini bukan sekadar mengejar keuntungan materi belaka.
"Jadi dari awal Naeka ini aku dirikan, emang niatku satu sih, bikin bisnis yang berkah buat bekal aku ke akhirat. Itu misi-misi aku," ungkapnya.
Oleh karena itu, Naeka rutin menggelar program Trade-In setiap momen Lebaran. Menariknya, program ini juga menjadi strategi Naeka agar semakin banyak konsumen yang bisa mendapatkan produk Naeka
"Jadi si customer itu boleh bawa mukena apa aja, bebas, nggak mesti Naeka, bebas, brand apa aja, pokoknya masih layak pakai, nanti kalian bisa Trade-In, jadi kita hargai Rp150.000. Jadi misalnya mukena Naeka yang baru Rp550.000, mereka bawa nih, mukena brand lain, nanti kita lihat, oh ini masih bagus, masih layak, kita hargai R p150.000, jadi kalau dia mau yang Rp550.000, tinggal dipotong Rp150.000, udah dapet mukena baru Naeka," tuturnya.
Nantinya, mukena layak pakai yang terkumpul dari program tersebut kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Hal itu dilakukannya kerja sama dengan sebuah yayasan di daerah Cikarang.
"Mukena yang si trade-in, yang mereka itu terus kita sumbangin, kita ada kerja sama sama yayasan di Cikarang. Nah itu kita sumbangin untuk mereka," jelasnya.
Selain itu, dari hasil penjualan Naeka, pihaknya juga menyumbangkan sekian persen keuntungannya untuk pembangunan fasilitas ibadah dan bantuan sosial tahunan di wilayah tersebut.
"Alhamdulillahnya, dari hasil Naeka kita udah bisa bikin musala, walaupun kecil-kecilan di sana, karena ternyata di sana itu, banyak masyarakat nggak mampu, dan waktu itu belum ada rumah ibadah apapun, maksudnya belum ada masjid gitu, itu kita ikut di situ bikin kontribusi," jelas Ekas
"Jadi kan berapa persen dari penjualan, kita selalu udah komit. Pokoknya, kurban nih tiap tahun, kita kirim ke mereka, jadi biar ngerasain lah, emang itu udah komitmen kita sih sebenarnya," pungkasnya.
BRI Bantu UMKM Naik Kelas
Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana mengatakan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas seperti Naeka.
"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.
Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali bergabung Rumah BUMN BRI akan diarahkan untuk mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya akan menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari usaha tersebut.
"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.
Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan.
"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.
(akd/ega)













































