"Saya tidak tahu dimana musti belinya, karena tidak ada showroom yang permanen untuk produk-produk sepatu dalam negeri. Apalagi yang sudah bagus kaya ini," ujar Ical sambil menunjukan sepatu yang baru digunakannya dalam peragaan di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (15/2/2009).
Ical menilai, saat ini sangat sedikit mal yang menjual tas-tas dan sepatu produk Indonesia seperti yang dipamerkan di JCC. Padahal menurutnya, produk-produk tersebut memiliki kualitas yang tak kalah bagus dengan merek-merek dagang asing.
"Pada tahun 2008, ekspornya US$ 1,8 miliar. Artinya kualitasnya bagus, hanya saja untuk produk indonesia tidak tahu belinya dimana, mal-mal besar yang banyak dikunjungi juga belum menjual produk-produk buatan indonesia," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tanya satu policy kenapa harga didalam negeri harus lebih mahal 2,5 kali lipat dari yang diekpor. Alasannya kalau ekspor jumlahnya besar dalam negeri kecil. Saya sarankan kenapa tidak di gabungkan saja sehingga bisa terjangkau masyarakat kita. makanya musti kita ubah policynya," ujar Ical.
Ical juga menyoroti masalah standarisasi ukuran sepatu yang seringkali tidak sesuai, malah terkadang berbeda-beda antara satu produsen dengan produsen lainnya.
"Kita cari size satu misalnya 42 masa diantara produsen tidak sama. ada yang 42 besar ada yang 42 kecil. Padahal standarisasi ini penting." kata Ical.
Ical juga menghimbau kepada para produsen sepatu untuk terus meningkatkan kualitas dan design. "Jangan sampai desain bagus tapi kualitas jelek sehingga tidak ada alasan untuk pakai produk luar negeri," tandasnya. (epi/dro)











































