Habibie dan Kawan Setia

Habibie dan Kawan Setia

- detikFinance
Selasa, 13 Okt 2009 12:25 WIB
Habibie dan Kawan Setia
Jakarta - Semenjak meninggalkan hingar bingar dunia politik, mantan presiden BJ Habibie jarang muncul di publik. Habibie mengaku kesehariannya kini memang hanya ditemani istri, asisten dan juga kawan setianya.

Habibie muncul lagi dalam acara seminar nasional perencanaan perkotaan masa depan yang berkelanjutan, yang digelar oleh Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, Selasa (13/10/2009).

Habibie sempat memberikan pandangan-pandanganya mengenai perkotaan dan segala hal hingga kurang lebih 1,5 jam lamanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walhasil panitia acara sempat ketar-ketir karena masih banyak pembicara yang belum menyampaikan pemaparannya diantaranya Menristek Kusmayanto Kadiman dan mantan menristek M. Zuhal. Namun apa daya, panitia pun tak kuasa menghentikan ocehan ahli pembuat pesawat ini.

Habibie yang saat itu memakai batik bercorak kuning keemasan berpeci hitam sadar akan kegusaran panitia dan peserta seminar. Dengan tegas Habibie mengatakan, ia memohon maaf mengenai prilaku pembicaraanya yang panjang lebar karena dia mengaku menjadi salah satu orang yang jika sekali diberikan kesempatan untuk bicara maka akan sulit dihentikan.

Wah kok bisa Pak?

Habibie menjelaskan selama ini ia  sudah jarang bertemu dengan khalayak banyak termasuk teman-temannya. Keseharian Habibie hanya bertemu dengan istri tercintanya dan asistennya. Namun kata dia selain dua orang itu, ia punya teman setianya yang selalu menemaninya yaitu otaknya.

"Saya salalu bertemu dengan kawan setia saya yaitu otak saya," katanya di acara seminar di gedung Departemen PU, Selasa (13/10/2009).

Sehingga kata dia, sekali dia diberikan kesempatan bicara maka tak ada yang bisa menghentikannya. Meskipun demikian, ia membantah kalau dia adalah orang yang individualis.

"Tapi bukan berarti  saya individualis," kilahnya.

Dalam pemaparannya Habibie, menjelaskan kota yang ideal adalah kota  yang berbasis Ramling Setentram yaitu kependekan dari kota ramah lingkungan sejahtera tentram dan mandiri. Setikdaknya ada 5 syarat yang harus terpenuhi yaitu:

1. Penghijauan harus berkisar antara 30%-60% dari wilayah kota.
2. Air minum, pembangunan jaringan drainase,penampungan air hujan, pengolahan dan recycling air limbah.
3. Meminimalkan pembakaran energi fosil, menghemat energi.
4. Pendidikan masyarakat kota disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
5. Prasarana ekonomi ekonomi biaya rendah
menyediakan prasarana teknologi informasi terjangkau, untuk tiap warga kota.

Dalam kesempatan itu juga ia memaparkan ide-ide berliannya dalam bidang regulasi maupun pengembangan teknologi untuk bisa diterapkan di Tanah Air misalnya, mendesak adanya pembentukan UU perpajakan yang memihak pada pemanfaatan kendaaran hemat energi dan ramah laingkungam.

Selain itu ia menghimbau agar adanya UU yang bisa memberikan insentif pada pengembangan dan penerapan energi alternatif photovoltaik, biogas, Geothermal, kinetik energi air dan angin.

Ia mencontohkan pemanfaatan kotoran hewan pada pusat pemotongan hewan di kota, dengan teknologi biogas sangat memungkinkan dilakukan. Selain itu, pengembangan teknologi energi kinetik memanfaatkan tenaga angin di Indonesia sangat potensial.

"Sebagian angin di Indonesia tidak konsisten, namanya angin-anginan," katanya disambut tawa hadirin.

Habibie juga menambahkan pemanfaatn energi kinetik yang bisa dikembangkan lainnya adalah pemanfaatan energi kinetik arus laut karena Indonesia berada di posisi strategis di dua samudera  besar dunia yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

"Ada yang konsisten, bisa memberikan kinetik energi
kita punya cekung pasifik dan Hindia, tapi harus melalui bendungan Indonesia," ucapnya.

Nostagia dengan Pak Harto

Dalam kesempatan yang sama, dalam pidatonya Habibie menyampaikan kenangannya pada saat ia masih mengabdi pada masa pemerintahan mantan Alm. Presiden Soeharto. Setidaknya ada dua hal yaitu saat ia ditugaskan oleh Soeharto untuk menjadi Kepala Otorita Batam menggantikan Ibnu Soetowo mantan dirut Pertamina dan pada saat ia ditugaskan untuk mengembangkan industri-industri strategis di Indonesia oleh Soeharto.

"Saya ada kesempatan 20 tahun lalu membangun Pulau Batam. Saya waktu itu diminta Pak Harto melanjutkan pembangunan pulau batam," katanya.

"Tahun 1974, saya diminta untuk mempersiapkan industri strategis oleh pak Harto," tambahnya.


(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads