Negara berkembang kerap kali mendapat tekanan untuk mengurangi emisi karbon sementara negara maju justru melakukan hal yang berlawanan.
Pada pertemuan Copenhagen mengenai perubahan iklim akhir tahun lalu, PM China mengibaratkan nasib negara berkembang dalam hal pengurangan karbon seperti orang yang telat datang di jamuan makan malam. Meski telat datang dan hanya mencicipi hidangan penutup, tetapi yang ironisnya harus menanggung pembayaran seluruh peserta makan malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada satu ungkapan dari PM Tiongkok (PM Wen Jiabao) pada waktu di Copenhagen. Ia mengibaratkan ada jamuan dinner, China dan beberapa Negara berkembang, datangnya telat, hanya desert tapi tapi disuruh bill-nya semuanya," kata Hidayat di kantornya, Jakarta, Kamis (8/7/2010).
Mulai sejak itulah, Hidayat sepaham dengan ungkapan PM China tersebut. Bahkan Hidayat kerap teringat ungkapan si PM negeri tirai bambu tersebut.
"Itu ungkapan PM China tapi saya ingat terus, karena kok rada-rada setuju secara pribadi," katanya.
Meskipun begitu, lanjut Hidayat, Indonesia tetap berkomitmen menurunkan emisi karbon sebesar 26% pada tahun 2020 melalui upaya sendiri. Hal inilah yang juga dipuji oleh presiden Swiss.
"Kemarin komentarnya presiden Swiss cukup ambisius, tapi sangat appreciate karena negaranya sendiri belum berani sebesar itu. Kita sebagai negara yang punya forest tree," tambah Hidayat.
(hen/qom)











































