Pandu Djajanto, Deputi Menteri BUMN 'Kolektor' Rokok Indonesia

Pandu Djajanto, Deputi Menteri BUMN 'Kolektor' Rokok Indonesia

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Jumat, 25 Jan 2013 15:03 WIB
Pandu Djajanto, Deputi Menteri BUMN Kolektor Rokok Indonesia
Jakarta - Belasan wartawan mendapat kesempatan berdiskusi dengan pejabat yang bertanggungjawab membahas BUMN sakit dan rencana IPO perusahaan pelat merah di ruangannya lantai 11 Kementerian BUMN.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi BUMN, Achiran Pandu Djajanto usai melangsungkan sholat Jumat langsung mengajak ngobrol wartawan di ruangannya.

Tak berhenti disana, sekitar belasan wartawan kemudian diajak melihat ruangan tempat lahirnya rencana bisnis perusahaan pelat merah ini.
Tak disangka, sosok pejabat yang cukup dekat dengan wartawan ini adalah kolektor rokok kretek made in Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setidaknya, terdapat 83 koleksi rokok asli buatan pabrikan dan home industri Indonesia yang dikoleksi pria kelahiran Solo, 8 Maret 1958
silam ini. Pria berkacamata ini mengaku mulai menjadi kolektor rokok sejak tahun 1988.

"Sejak tahun 1988, koleksi rokok pertama saya Pak Tani dan Djambu Bol, Retjo Pentung. Itu dari Jateng dan Tulung Agung (Jatim)," tutur Pandu
sambil menunjukkan koleksinya di Ruangannya, Jumat (25/1/2013).

Pria yang awalnya menjadi pegawai Kementerian Keuangan ini menjelaskan koleksi rokok yang berjejer rapi menghiasi dinding ruangannya, terdapat beberapa merek unik seperti Metro Jaya, Pak Tani, Grendel, Sawah Ladang, Jingga Lama, Sehati Bentoel dan Sejati Betul bahkan ada merek rokok yang sudah dijual lagi.

Ia pun mempunyai alasan kenapa mengkolesi rokok kretek dari seantero negeri itu. "Saya merasa bahwa Indonesia dulu sebagai negara yang dijajah kita dicokokkan racun. Semua orang terbiasa menjadi perokok. Dia hanya disuruh merasakan kenikmatan merokok," tambahnya.

Pria yang mulai beralih ke rokok cerutu sejak tahun 2004 ini pun memiliki hal unik saat berburu rokok kretek. Ia berburu rokok sendiri hingga ke Padang Sumatera Barat padahal rokok tersebut dibuat di Kudus, Jawa tengah.

"Aku hunting sendiri," sebutnya.

Bahkan koleksi rokoknya pernah ditawar per bungkus seharga Rp 5 juta. Rokok tersebut menurutnya ditawar langsung oleh sang anak dari pendiri
pabrik rokok yang telah tutup namun tidak ada koleksi untuk produk yang ia miliki.

"Yang aku beli namanya Redjo Pentung. Itu pabriknya sudah bangkrut, anaknya mau datang ke saya dia minta beli Rp 5 juta per bungkus tapi
saya gak kasih. Saya dapat di Pasar Rakyat di Pare-Pare (Sulsel). Saya beli dulu Rp 5.800, itu tahun 1990an," cetusnya.

(hen/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads