Saham yang dilirik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang saat itu tengah anjlok harganya hingga Rp 775 per saham. Pemilik nama asli Satriyo Yudi Wahono itu menyebutkan, dirinya menggelontorkan uang sebesar Rp 175 juta untuk membeli saham BUMI.
"Saya cuma modal Rp 175 juta, saya masuk beli sahamnya BUMI sedang jatuh-jatuhnya dari harga Rp 775 per saham," ujar pria kelahiran Surabaya 15 Juli 1973 di acara Gerakan Cinta Pasar Modal, di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ikutin terus naik 2008-2009, dari harga Rp 775 per saham naik jadi Rp 2.475, itu sudah naik berapa ratus persennya kan? Terus saya mendapatkan keuntungan, dan saya mulai transaksi saham terus," terangnya.
Tak puas hanya punya saham BUMI, Piyu pun menjajal peruntungan berinvestasi di saham lain yaitu PT Bank Jabar Banten Tbk (BJBR).
"Saya sudah nggak punya saham BUMI, sejak 2010-2011 saya lepas semuanya. Habis itu baru saya mulai saya jual, dan coba yang lain, saya masuk BJBR, ya terus maen-maen sampai sekarang," ucapnya
Selain itu, Piyu juga mulai mengoleksi saham-saham lain seperti Waskita Karya, Adhi, WTON, Antam, dan Astra.
"Saya trading yang aktif, jadi kecuali Pilpres kemrin saya jadi investor saja, saya diam, saya waktu itu masukin di Antam, sampai sekarang. Sebagian ada yang saya trade dan sebagian ada yang saya invest saja," jelas dia.
Perjalanan investasi Piyu tak selalu berjalan mulus, dirinya juga pernah rugi saat menjajal investasi di saham PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO).
"Sekarang nggak lebih dari 10 saham, sekarang cuma ada Waskita, Astra, Wika Beton, Antam, dan lainnya, yang lama-lama masih nyangkut juga ada, kayak GTBO, terus ada dua yang nyangkut PT Ancora Indonesia Resources Tbk," katanya.
Piyu menyebutkan, dirinya mencoba disiplin dalam berinvestasi. Paling tidak, dia menanamkan uangnya di pasar saham sekitar Rp 60 juta-Rp 70 juta per bulan.
"Kalau keuntungan itu saya sudah patok, jadi itu transaksi saham, misal saya trading hari ini untuk Rp 10 juta, Rp 12 juta, dikit-dikit saja, nanti sebulan kan kita tahu keuntungannya berapa kan? Itu untuk kehidupan saya, bukan untuk gambling, saya benar pikirkan bagaimana bisa dapat keuntungan," imbuhnya.
Sebelum berinvestasi langsung di saham, Piyu memulai investasinya di instrumen reksa dana, ia memulainya di tahun 2003.
"Dari tahun 2008, kebetulan waktu itu sedang ada krisis ekonomi termasuk Indonesia juga, ini krisis ekonomi kedua setelah tahun 1998, pada saat bersamaan itu, saya lagi berinvestasi di sebuah reksa dana luar (asing), saat saya baru masuk itu saya minus terus, akhirnya sisa 30%. 2008, saya masuk ke saham, jadi semenjak itu saya sudah nggak pakai reksa dana yang asing itu. Saya masuk reksa dana itu 2003, sudah mulai," jelas dia.
Berinvestasi di reksa dana bukan langsung untung, Piyu justru mengalami kerugian.
"Saya masuk reksa dana asing saya kehilangan US$ 80 ribu pada tahun itu ya, tinggal 30 persennya, jadi sekitar US$ 2.400, habis itu stop," kata dia.
Yang paling penting, kata dia, sebelum berinvestasi di instrumen apa pun kita harus paham betul produk yang akan kita investasikan. "Kita harus tahu, paham betul, saham apa yang kita pilih, dan tahu betul kapan kita masuk dan keluar, intinya itu saja," pungkasnya.
(drk/hen)











































