Yuddy lantas langsung berbicara soal karier hidupnya sebelum menjadi menteri salah satunya pernah menjadi pegawai bank sampai akhirnya berhenti dan mengambil pendidikan S2 di Universitas Indonesia (UI).
"Saya punya gaji sebagai pegawai bank dan gaji ini saya gunakan untuk hidupi ibu dan adik-adik saya. Tetapi masa depan juga harus saya ambil. Saya putuskan saat itu saya jadi pengangguran, berhenti dan bahkan membayar uang pendidikan kepada bank tersebut 2 tahun terakhir. Lalu saya kuliah di UI," cerita Yuddy, Jumat (22/05/2015).
Singkat cerita, setelah lulus kuliah S2 di UI, Yuddy ditawari menjadi staf honorer penelitian di UI. Setelah itu peluang menjadi orang di pemerintah mulai terbuka setelah keluar dari staf honorer di UI.
"Jadi staf honorer penelitian di UI setelah saya lulus kuliah S2. Karena honorer, banyak nganggur, lalu saya diundang oleh aktivis Unas (Universitas Nasional) menjadi pembicara dengan tema ekonomi politik," tambahnya dengan nada serius.
Sejak menjadi pembicara di Unas, Yuddy langsung diminta untuk menjadi dosen. Tidak pikir panjang, Yuddy menerima tawaran tersebut dan jenjang kariernya semakin melejit.
"Ditawarkan menjadi pengajar di Unas 1995 dan diangkat menjadi dosen ekonomi tetap 1 tahun kemudian. Kemudian menjadi rektor kepala tahun 2000," tuturnya.
Dari karier ini juga, Yuddy mulai dekat dan masuk ke dalam pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Yuddy diangkat sebagai staf khusus bidang politik dan keamanan.
"Setiap rapat kabinet, saya selalu duduk di samping pak SBY yang saat itu menjabat sebagai Menkopolhukam," katanya.
Menjadi staf khusus, Yuddy tetap aktif menulis jurnal dan buku tentang politik dan keamanan. Buku dan jurnal yang dibuat Yuddy bahkan sampai dicetak di beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura. Hingga akhirnya Yuddy diangkat menjadi menteri di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Hidup harus berani ambil risiko. Kalau tidak hitam ya putih, hidup itu harus punya pilihan. Tapi sebuah sikap harus punya risiko. Sikap yang diyakini menjadi sesuatu yang terbaik dan resiko dan siap ikhlas kalau gagal akan membangkitkan jalan baru. Perlu kalkulasi yang matang, jangan abu-abu," pesan Yuddy. (Wiji Nurhayat/Angga Aliya)











































