Follow detikFinance
Jumat 25 Nov 2016, 12:10 WIB

Mantan Pilot Hercules Kemudikan Freeport

Sudrajat - detikFinance
Mantan Pilot Hercules Kemudikan Freeport Foto: Andhika Akbaransyah
Jakarta - Setajam apa pun sebilah pisau, jika tak diasah, lama-kelamaan akan tumpul dan berkarat. Marsekal Chappy Hakim menyadari hal itu. Karena itu, dia tak hendak melupakan profesi dasarnya sebagai pilot. Meski telah menyandang empat bintang di pundak, 2002-2005, sesekali dia masih suka duduk di ruang kokpit menerbangkan Hercules, yang menjadi keahlian dasarnya.

"Sebagai KSAU, beliau pernah menerbangkan Hercules A-1341 dari Halim ke Makassar, lalu ke Yogyakarta," tulis wartawan senior harian Pelita, A. Basori, beberapa waktu lalu.

Reputasinya sebagai pilot Hercules, tulis Basori, membuat Chappy dipercaya mengantar tokoh-tokoh penting sekelas presiden/wakil presiden, para menteri, dan Panglima ABRI. "Dengan pesawat ini, saya pernah menerbangkan Presiden Soeharto ke beberapa wilayah dan Panglima ABRI Jenderal TNI Try Sutrisno ke Australia."

Hal lain yang terus diasah lelaki kelahiran Yogyakarta, 17 Desember 1947, ini adalah menulis. Kepada detikcom, dia mengaku menyenangi dunia tulis-menulis sejak usia kanak-kanak, tepatnya saat masih di Sekolah Rakyat, dekade 1950. Saat itu pelajaran yang dia senangi adalah mengarang. Kebetulan ayahnya, Abdul Hakim, adalah wartawan pendiri Lembaga Kantor Berita Nasional Antara bersama Adam Malik dan Rachmat Nasution. Saat menjadi Taruna Akabri, Chappy aktif menulis untuk majalah Mako Akabri. Pada 1979, tulisan-tulisannya mulai dimuat di Intisari dan Kompas.

Chappy aktif menulis di blog dan mencuit di Twitter. Perhatian utamanya tentu saja seputar dunia penerbangan: keselamatan dan keamanan penerbangan, baik sipil maupun militer. Dia mengaku amat menikmati aktivitas itu pada usianya yang beranjak senja. "Setiap hari ulang tahun, 17 Desember, satu buku sudah terbit, itu cukup," ujarnya kepada detikcom. Ratusan artikel karyanya yang tersebar di media massa dan blognya telah dihimpun menjadi belasan buku. Terakhir, Juli lalu Chappy menerbitkan Sengketa di Lanud Halim Perdanakusuma.

Meniup saksofon dan memetik gitar juga menjadi keasyikan lain bagi suami Pusparani Hasjim ini. Di musik, dia punya grup band sendiri, The PlaySet. Pada 23 November lalu, dia bersama personel The PlaySet "mengamen" di Q Lounge Hotel Sultan, Jakarta. Mengenakan topi koboi berwarna merah, dia menyanyi sambil berganti-ganti memainkan kedua alat musik dengan penuh ekspresi.

Sejak akhir pekan lalu, perusahaan tambang terbesar di Indonesia, PT Freeport Indonesia, menunjuk Chappy Hakim sebagai Presiden Direktur, menggantikan Maroef Sjamsoeddin, yang mundur sejak Januari lalu. Meski sejak Agustus 2016 Chappy menjadi penasihat senior di Freeport, pertambangan tetap merupakan dunia baru baginya. Bukan cuma soal bisnis, bidang ini juga sarat dengan isu politik.

Setidaknya ada empat pekerjaan rumah yang dihadapi Chappy, pertama, masalah penyelesaian divestasi 10,6% saham Freeport kepada pemerintah Indonesia, dan hingga 2019 mencapai 30%. Yang kedua, pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) karena hasil tambangnya wajib dimurnikan di dalam negeri. Jika tidak, Freeport tidak diizinkan mengekspor hasil tambangnya pada 2017. Ketiga adalah perpanjangan kontrak Freeport Indonesia. Kontrak akan habis pada 2021 dan, sesuai aturan, pembahasan perpanjangan kontrak bisa dilakukan minimal dua tahun sebelum kontrak berakhir. Yang keempat, Pemerintah Provinsi Papua minta dilibatkan dalam pengurusan izin analisis mengenai dampak lingkungan Freeport di wilayah Bumi Cenderawasih.

Terkait isu divestasi, di hadapan para pemimpin redaksi media massa pada Rabu, 22 November, Chappy sudah mengisyaratkan kemungkinan besar hal itu akan ditempuh lewat pasar modal Indonesia. "Banyak hal teknis yang sedang dipersiapkan. Tapi IPO (initial public offering) adalah solusi yang kemungkinan besar akan diambil," ujarnya.

Apa pun kebijakan yang akan dibuatnya terkait keempat PR tersebut, tentu kita berharap Chappy tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi tanah airnya. Memimpin Freeport tentu tak akan sebebas saat menjadi pilot Hercules. Ada banyak kepentingan bisnis dan politik di dalamnya. Di sinilah profesionalisme dan integritas pribadi Chappy menjadi pertaruhan.

Mantan Pilot Hercules Kemudikan FreeportFoto: Andhika Akbaransyah
(jat/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed