Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 28 Sep 2018 08:07 WIB

Cerita Sukses

Yang Muda yang Kaya Raya Berkat Internet

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Muda, kaya raya dan mendunia. Seluruh kategori tersebut dipenuhi oleh seorang Ma Huateng saat usianya masih sangat muda. Namanya mungkin kalah populer dibanding Jack Ma, tapi tidak dengan jumlah hartanya.

Total harta saat ini mencapai US$ 39 miliar atau setara Rp 577,2 triliun (kurs Rp 14.800). Hal tersebut menjadikannya orang terkaya kedua di China tahun 2018 versi Forbes, mengungguli Jack Ma.

Ma Huateng yang lahir di China, 46 tahun yang lalu tersebut membangun kerajaan bisnisnya lewat segala sesuatu yang berhubungan dengan internet dan teknologi. Ayahnya merupakan seorang manajer di sebuah pelabuhan besar di China.

Setelah lulus dari Universitas Shenzhen dengan gelar dalam bidang ilmu komputer pada tahun 1993, ia mendapatkan pekerjaan mengembangkan perangkat lunak untuk pager. Meskipun saat itu China hanya memiliki rata-rata satu komputer untuk setiap 100 orang penduduknya, tapi Ma mempunyai pandangan yang visioner mengenai masa depan internet dan teknologi di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Lima tahun setelah lulus, Ma yang berusia 27 tahun bergabung dengan empat teman sekelasnya di perguruan tinggi untuk ikut mendirikan Tencent Inc, sebuah perusahaan internet yang kelak akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Uang yang mereka keluarkan untuk memulai perusahaan terutama berasal dari penghasilan di pasar saham.


Seperti yang terjadi dengan sebagian besar startup, Ma dan teman-temannya merasakan kesulitan dalam beberapa tahun pertama setelah mendirikan perusahaan. Dia mengambil berbagai peran mulai dari petugas kebersihan hingga perancang situs web, untuk menjaga perusahaan tetap eksis. Tencent menawarkan layanan e-mail dan laman internet pada awalnya.

Mereka menciptakan layanan AOL Instant Messenger-like yang disebut QQ, yang menghubungkan pengguna komputer desktop dengan telepon seluler. Hal ini dengan cepat menjadi platform pesan instan populer dan terbesar Cina.

Tencent mulai menghasilkan uang melalui iklan dan biaya bulanan untuk pengguna chat QQ premium. Pada tahun 2001, perusahaan telah mengumpulkan lebih dari US$ 32 juta dalam investasi hingga akhirnya tiga tahun berselang, Tencent menjadi perusahaan publik di Hong Kong.

Kemudian, pada tahun 2011, Tencent memulai debutnya dalam aplikasi pesan mobile WeChat sebagai entitas terpisah dari QQ. Hal inilah yang mengawali kedigdayaan Tencent menjadi penguasa internet terbesar di China.

WeChat sering dibandingkan dengan Facebook karena eksistensinya yang begitu populer di China. Terlebih Facebook dilarang beroperasi di China, bersama dengan layanan pesannya WhatsApp.

Namun, model aplikasi WeChat juga berkembang lebih jauh dari Facebook hingga mendapatkan hampir 1 miliar pengguna aktif tiap bulanannya. WeChat populer karena memungkinkan pengguna mendapatkan banyak fungsi mulai dari mengirim teks, menelepon, bermain game, mengirim uang, berbelanja, membayar di restoran, naik taksi, dan bahkan terlibat dalam kencan online.

Tencent telah berhasil bercabang ke arena lain juga, seperti penyedia cloud, usaha intelijen buatan dan hiburan. Epic Games, anak perusahaan dari Tencent Games, memproduksi game royale pertempuran besar-besaran yang populer "Fortnite."

Tencent juga melakukan investasi di sejumlah perusahaan di luar China. Ada 5% saham di Tesla, 10% saham di Snap, hingga 10% saham di Spotify.


Tahun lalu, Tencent menjadi perusahaan teknologi Asia pertama yang mempunya valuasi lebih dari US$ 500 miliar dan sekarang menjadi perusahaan publik paling mahal di Asia.

Tencent kerap dibayangi e-commerce raksasa Alibaba saat mencoba untuk memperluas pasarnya di China dan luar negeri. Kedua perusahaan bersaing untuk mendominasi pasar pembayaran ponsel melalui layanan seperti Ten Pay dan Alipay.

Dua pemilik perusahaan teknologi ini juga kerap bersaing untuk gelar orang terkaya di China dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan sekarang Forbes menempatkan Ma Huateng satu posisi di depan Jack Ma, dengan keunggulan jumlah harta US$ 4 miliar lebih banyak. (eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed